Aku masih harus menghela nafas berat dan merasakan sakit yang sama setiap kali mengingat kamu.

Lalu pikiranku melayang kembali ke kota kita. Iya, kota kita. Yang setiap inchinya ramah dan romantis, seperti kenanganku tentang kamu.

Ramah.

Kata yang mungkin tidak kamu kenali lagi saat ini. Yang terubah karena banalnya ibu kota, katamu.

Aku masih mempertanyakan hal yang sama, dalam isakan yang sama, seperti yang aku sampaikan kepada kamu malam itu. “Apa kita harus berubah? Apa kita tidak bisa kembali sederhana dan bahagia sebagaimana kita di kota kita dulu?”

Aku ingat kamu sudah tak mendengarkanku, sibuk dengan dunia baru dalam genggamanmu. Dunia yang menarik keramahanmu. Dunia yang membuatmu mungkin terperangkap dalam buih buih semu. “Prioritas kita kan sudah beda. Ya gak bisa kamu memaksakan terjebak di masa lalu dan gak berubah.”

Iya. Mungkin.

Tapi kamu yang dulu punya kerlipan yang lebih indah. Yang lebih hidup. Yang tidak membuatku ingin memelukmu dan berkata, “nggak papa, kamu nggak sesendiri itu.” 

Aku rindu kamu yang dulu.

Aku jatuh cinta pada kamu yang dulu.

Dengan rambut gondrongmu dan kumis tipismu. Dengan filosofi kamu dan kebijaksanaan kamu. Dengan tawa kamu. Dengan kesederhanaan kamu. Dengan kamu.

Kembalilah.

Seperti coret-coret kasar yang aku buat sembilan tahun lalu dengan kamu. Aku masih menemukan kamu yang membuatku jatuh cinta di sana. Dan aku masih jatuh cinta kepada kamu. Sembilan tahun lalu, hingga sembilan detik yang lalu.

Kembalilah.

Aku tidak mau kota ini merubahmu. Aku tidak mau kamu melupakan kamu yang dulu.

Karena aku ingin membenamkan kepalaku dalam tubuh baru bangun tidurmu, yang belum terkena peralatan macak Jakartamu. Aku ingin membaca tulisan jujur tak terstrukturmu. Aku ingin dipeluk kamu lagi seolah tidak akan kamu lepaskan. Aku ingin kamu lagi.

Dan seperti aku berkata kepada kamu. “You had me, for everything I am.