Siapa sih yang mau menikah dengan orang yang salah? Kita semua pasti berusaha keras menghindari menikah dengan orang yang salah, tapi pada akhirnya, kita tidak akan bisa menghindari menikah dengan orang yang salah karena beberapa alasan.

Pertama, kita tidak memahami diri kita sendiri.

Kita sebenarnya adalah makhluk-makhluk yang sakit, secara spesifik, mudah stres, labil, tidak dewasa, tapi kita tidak memahami secara detil mengapa kita merasa seperti ini. Dan tidak ada orang yang mendukung kita untuk memahami apa yang kita rasakan. Teman-teman kita hanya ingin bersenang senang dengan kita, dan orang yang tidak menyukai kita, tentu saja, tidak akan mempermasalahkan ke-tidak waras-an kita.

Sehingga kemudian kita berakhir dengan kemampuan memahami diri sendiri yang rendah dan tidak tahu pada siapa kita sebenarnya “kompatibel”. Seharusnya ketika kita berkencan pertama kali, kita bertanya pada calon pasangan adalah “bagaimana kamu ketika kamu tertekan dan menjadi setengah gila?”

Kedua, kita tidak memahami orang lain.

Memahami betapa orang lain, mungkin, sama sakit jiwanya dengan kita sangatlah sulit. Apalagi jika pada awalnya mereka memasang topeng yang cukup baik dan menyembunyikan kegilaannya. Seharusnya, secara ideal, kita mengirimkan diri kita dan mereka dalam serial kuesyioner psikologis dan terapi psikologis secara intensif sebelum mengambil keputusan. Dua orang gila yang tidak memahami kegilaannya bukanlah pasangan ideal. Serius.

Ketiga, kita tidak terbiasa bahagia.

Kita pikir kita menginginkan kebahagiaan, padahal apa yang sebenarnya kita inginkan adalah hal-hal yang kita sudah “biasa” rasakan, yang mana biasanya tidak melibatkan “kebahagiaan”.

Tumbuh dewasa, kebanyakan dari kita, merasakan cinta yang bercampur dengan hal-hal suram seperti dikontrol, dimanipulasi, dihina, dicampakkan, disiksa, secara singkat: penderitaan. Dan sekarang, apapun yang kita ucapkan, kita masih mencari kisah cinta dengan bumbu-bumbu penderitaan yang sudah “biasa” kita cicipi. Maka dari itu kita menolak calon pasangan yang stabil, dewasa, bisa diandalkan, tenang yang membuat kita merasa mereka adalah orang yang “membosankan”, dan kemudian, tanpa sadar, kita memilih orang-orang yang kita pahami, akan mengacaukan diri kita dengan cara yang sangat.. familiar.

Jangan heran ketika kita selalu merasa “begitulah cinta, penderitaannya tiada akhir.”

Keempat, menjadi jomblo itu mengerikan.

Apalagi ketika kita harus merasa terbiasa dengan malam minggu tanpa kencan, ditinggalkan mereka yang punya pasangan dan tentu saja, jatah hari-hari tanpa hubungan intim. Sehingga tak jarang kita memilih menutup mata dan mengambil apapun – atau siapapun – yang lagi bisa “dipakai”.

Kelima, karena insting penuh dengan gengsi.

Saya dulu diajarkan bahwa pernikahan adalah institusi bisnis yang rasional. Dalam perjodohan, pernikahan akan dinilai dengan penuh perhitungan dan logika, tapi kemudian kita mengenal apa yang disebut “pernikahan romantis”, yang mana institusi pernikahan adalah tentang apa yang kita rasakan, kita tidak boleh berpikir terlalu banyak, tidak perlu menganalisa keputusan yang mana akan membuat pernikahan kita “kurang romantis”.

Mungkin hal-hal romantis seperti melamar seseorang yang kita kenal dalam hubungan singkat dengan bunga dan mungkin balon sambil sang pria menunduk di tengah taman di mana semua orang melihat dan menunggu sang wanita menjawab “I do, mas. I do.”

Karena kembali bahwa kita adalah makhluk-makhluk sakit jiwa, ide pernikahan yang romantis akan dianggap sebagi sebuah ide yang brilian dan menyembuhkan.

Ngga,

Mamam itu cinta.

Keenam, kita tidak memahami apa itu cinta.

Sejuta definisi tentang cinta dapat kita temukan, tapi tak sedikit pun orang mengajarkan apa itu cinta.  Kita tidak pernah, sedetikpun, berpikir untuk mempelajari apa itu cinta. Kita tidak bertanya pada pasangan yang sudah menikah mengapa mereka tetap langgeng bersama, atau bertanya pada pasangan yang berpisah, kenapa sebuah pernikahan gagal.

Ketujuh, kita ingin kebahagiaan yang abadi.

Siapa yang tidak ingin hal-hal baik tetap abadi? Kita sedang bulan madu di tempat yang romantis tanpa harus memikirkan tanggung jawab kita dalam hal hal lain. Menatap matahari terbenam sambil berpelukan mesra dan mungkin bertatapan sebelum akhirnya menikmati malam yang indah berdua,

Kebanyakan dari kita berharap pernikahan akan membuat kita merasakan hal-hal seperti ini setiap hari.  Yang kemudian, sayangnya, hal yang abadi adalah pasangan kita, yang ternyata punya perasaan dan mungkin berbeda setiap harinya, kadang mereka sedih, kadang mereka kumat sakit jiwanya.

Kedelapan, kita ingin berhenti berpikir tentang cinta.

Karena begitu menyakitkan, patah hatinya, kencannya, one night stand nya, kita memilih menikah karena kita sudah muak bolak balik patah hati dan putus cinta dan mungkin muak dengan baper pada pasangan kencan semalam kita. Kita menikah supaya berhenti berpikir tentang cinta sepanjang hari dan sepanjang waktu. Settled down.

Yang kemudian akan menjadikan kita menikahi orang yang salah, atau mungkin sudah.

Tapi tenang saja, ini bukanlah salah kita, toh tidak ada yang mengajari kita apa itu pernikahan. Yang kemudian menjadikan kita hancur berkeping-keping. Tapi toh kita akan belajar, bahwa kita tidak akan terjebak dalam kegilaan tanpa tanggung jawab ini. Akan ada banyak orang yang menderita karena menikahi orang yang salah. Dan mungkin, dalam beberapa abad, kita akan menemukan formula supaya kita menjadi waras dan mampu memahami diri kita sendiri, memahami orang lain, terbiasa bahagia, tidak menganggap jomblo adalah momok mengerikan, menjaga kerasionalan otak kita, memahami cinta dan belajar bahwa kebahagiaan adalah hal yang semu.