Mungkin kita tidak dilatih menjadi sastrawan, atau pujangga yang puitis. Tapi berceritalah.

Setidaknya berceritalah pada dirimu sendiri. Berceritalah dan dongengkan tentang kamu dan masa sekarang, pada dirimu sendiri. Berceritalah dan biarlah dirimu terbuai dari mimpi yang kamu buat sendiri. Kenapa? Karena kamu bukan robot. Karena kamu bukanlah budak korporat yang pada akhirnya akan terautomatisasi menjalankan rutinitas yang perlahan membuat jiwa kamu berkarat.

Setidaknya aku begitu.

Aku suka menceritakan pada diriku sendiri, bagaimana aku memaksamu memelukku karena aku ingin mencuri dengar ritme jantungmu. Sama seperti ketika kamu dulu meletakkan kepalamu di dadaku dan bertanya “suara jantung kamu lemah, ya?” Padahal namamu sudah terselip dalam atrium kiri jantungku, menjadi pemompa darah beroksigen ke seluruh tubuh dan otakku. Kamu.

Aku juga suka menceritakan pada diriku sendiri, bagaimana aku senang membuang waktuku dengan berada di sebelahmu, memandangmu lamat lamat tanpa banyak bicara. Mengelus helaian rambutmu dalam diamku. Bukan karena lidahku kelu, bukan karena otakku buntu, karena aku suka dengan tatapan matamu. Dan aku suka bagaimana kamu memejamkan matamu sambil berkata, “biar kamu mengelus-elus kepalaku.”

Dongeng-dongeng manis yang membuatku tetap setia bermimpi tentang kamu.

Berceritalah. Setidaknya berceritalah pada dirimu sendiri. Berceritalah dan dongengkan dirimu tentang waktu. Sehingga kamu akan selalu mengingat, pada gerakan kecil matahari, akan ada cerita-cerita indah yang membuatmu bertahan dan bersemangat.

Setidaknya aku begitu.

Aku paling suka dengan pagi, ketika notifikasi pertama dalam ponsel pintarku adalah sapaan darimu. Sesederhana kata “morning” atau “pagi” yang datar dan mungkin membosankan tanpa getaran romantisme dari kamu. Tapi tidak buatku. Tidak dalam ceritaku. Walau ada beberapa orang lagi yang memberi sapaan pagi, hanya kamu yang selalu aku tunggu.

Aku jatuh cinta pada senja, ketika matahari perlahan menghilang dan tergantikan malam. Ketika aku bertanya, apakah kamu masih terjebak lelah dalam banalnya jakarta. Dan apakah akan sedikit membuatmu bahagia ketika aku mengirimkan rindu-rindu kecilku padamu yang bukan berpendar semu.

Tapi hujan selalu menghipnotisku, karena kenangan tentang kamu yang ingin aku ingat adalah bagaimana kamu memelukku paling erat dalam gigilku dikala hujan suatu malam. Dan karena kamu, bagaimana bisa aku tak tersenyum dalam melewati hari-hariku?

Aku tak tahu caranya mencintai dengan benar. Aku tak tahu romantisme yang menggetarkan kamu seperti apa. Tapi aku tahu caranya bercerita. Bercerita dengan jujur tentang kamu, bercerita tentang apa yang aku rasakan saat ini pada kamu. Mungkin tanpa tendensi getaran para remaja yang bisa membuatmu menggelengkan kepalamu sambil tertawa renyah.

Maka berceritalah. Setidaknya berceritalah pada dirimu sendiri. Berceritalah dan dongengkan dirimu betapa kamu menikmati apa yang sudah kamu punya dan kamu siap untuk hal-hal yang jauh lebih baik daripada saat ini, tanpa kehilangan kamu seutuhnya. Berceritalah dan jangan biarkan dirimu kehilangan mimpinya.

 

PS: Aku pinjam foto langit milik kamu, ya :)