mung Isa muni, matur nuwun Gusti. (Hamid Muhammad, 19 Mei 2015, 20:21)

Begitulah status terakhir Path mas Hamid (yang ditendang ke Facebook). Tanggal 20 Mei 2015, sekitar jam 12 siang, saya sudah duduk di pesawat bersiap boarding ke Jakarta, ketika akan mematikan telepon genggam, berita itu berseliweran, “Mas Hamid kenapa?!” beberapa teman menginformasikan mas Hamid jatuh pingsan di kantor saat sedang mengaduk kopi, dan sedang menuju rumah sakit.

Paham rasanya nelangsa di kursi pesawat sementara mau lari ke luar, pintu sudah ditutup? Kira-kira seperti itu perasaan saya, dan rasanya gelisah sekali menunggu penerbangan yang hanya berdurasi satu jam itu.

Saya teringat awal perkenalan saya sama mas hmd sekitar tahun 2010, dulu nama akunnya masih @bocahmiring, kami bareng-bareng bikin Pesta Blogger Jogja 2010. Semenjak saat itu kami masih beberapa kali berhubungan terutama ketika cah jogja masih sering guyub di sana dan di sini, bahkan terakhir kali waktu saya ngetweet tentang teh dan mas Hamid memang pecinta teh.

Kabar ini terlalu mendadak, mas Hamid masih sangat muda, orangnya nyebahi dan usiiiill sekali, usil yang menyenangkan. Temen nyinyir karena dia benci sekali ketika teman-temannya dinilai dengan angka, sebagai buzzer, tapi Mas Hamid itu orangnya sederhana sekali, lucu dan pintar, bisa diajak diskusi lintas topik, saya ingat pernah diskusi bab capres, ngeteh, perlendiran sampe masalah DNS.

Saya rindu sekali ngumpul dengan anak jogja seperti dulu, malam sebelum kembali ke Jakarta saya main ke Kedai Lokalti angkringan-nya Argadi. Sempat terucap pengen reuni lagi anak jogja berkumpul lagi, bahkan muncul kalimat “po yo merapi kudu njebluk sik lagi do ngumpul?” (Apa iya, merapi harus meletus lagi supaya kita berkumpul?)

Kemarin siang hingga siang ini semua teman jogja berkumpul di satu tempat. Rumah duka mas Hamid. Rasanya mencelos ketika mendapat kepastian bahwa mas Hamid sudah kondur (berpulang), dan juga perasaan in-denial bahwa saya belum mampu untuk segera terbang ke jogja hari itu juga untuk mas Hamid.

Bapak mas Hamid sudah sepuh, dan selalu mencari-cari anak tunggalnya yang sudah sangat dewasa dan besar ini kalau malam belum pulang. Mas Hamid sering sekali meng-gojeki (membercandai) bapaknya, sering cerita kalo mereka ngeteh bareng dan ngobrol ina inu, siang ini, sebuah kabar datang dari teman-teman yang ke Jogja.

Tadi waktu salaman sama bapaknya Hamid..

Tika: “Pak.. Saya ikut bela sungkawa..”
Bapaknya Hamid: “Iya. Terima kasih, mbak..”
Tika: “Saya teman Hamid, Pak..”
Bapaknya Hamid: “Teman kerja atau teman sekolah, mbak?”
Tika: “Teman baik, Pak..”
Bapaknya Hamid: “Oh..”
Tika: “Hamid itu, anaknya baik sekali, Pak. Baik sekali sama teman-temannya..”

Dan tiba-tiba muka Bapaknya Hamid berubah.
Yang tadinya datar dan lelah, dan tiba-tiba matanya melebar dan bersinar.
Lalu tersenyum.
Lalu menggenggam tanganku kenceng.

Lalu aku pamit mundur.
Soalnya jadi pengen nangis liat reaksi Bapaknya.
Padahal dari kemaren bisa kuat biasa aja, karena yakin Hamid udah baik-baik aja.

~ dituliskan oleh @Tikabanget

Dan apa yang bisa dikembalikan anak kepada bapaknya selain dia besar dan dewasa menjadi anak yang baik dan dikenang dengan baik oleh teman-temannya?

Masih banyak yang ingin saya tuliskan, dan saya yakin mengenang mas Hamid ga mungkin cukup dalam satu postingan, saya kenal mas Hamid baik selama lima tahun terakhir, tidak dekat hingga saya curhat masalah pribadi saya, tapi baik. Baik sekali.

Teman-teman Jogja mengirimi saya ini, speech yang dilakukan Argadi siang ini, yang membuat saya kembali sesak dan merindukan mas Hamid.

Assalamu alaikum wr wb

Yang saya hormati bapak-bapak, ibu-ibu, keluarga dari Mas Hamid, dan teman-teman semua. Sebelumnya saya ucapkan terima kasih telah meluangkan waktunya untuk berkumpul disini.

Hingga detik ini, saya dan mungkin teman-teman semua, masih berharap ini adalah mimpi. Tapi ternyata tidak, semua ini nyata. Kita semua sukses dibuat tidak bisa tidur oleh sebuah kenyataan.

Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, Kemarin, Rabu 20 Mei 2015, kira-kira pukul 11.30, kawan kita, sahabat kita, saudara kita, Muhammad Hamid , telah berpulang telah menemui Tuhannya yang dicapnya Maha Asyik, dengan tenang.

Banyak sekali kenangan yang ditinggalkan beliau semasa hidupnya, untuk kita. Dan akan memakan waktu yang lama jika dijabarkan satu persatu. Karena menurut saya, satu kata yang cocok menggambarkan Mas Hamid adalah koma, karena ngomongin Mas Hamid itu tidak akan ada ujungnya, tidak akan menemui titik.  Guyonannya, tingkah lakunya, petuahnya yang terkadang atau sering membuat kesal, tapi justru itulah yang abadi terkenang.

Dan yang paling mendalam adalah, bagaimana cara pandangnya yang sederhana, dalam menyikapi suatu permasalahan.

Mas Hamid adalah sebuah jembatan, yang menghubungkan berbagai macam kelas, berbagai macam kelompok, berbagai macam individu. Jembatan yang seperti itu adalah jembatan yang paling susah dibangun, namun Mas Hamid, berhasil membangunnya.

Ikhlas memang sulit, terutama mengiikhlaskan kepergian beliau, kepergian tanpa pamit. Karena beliau memang tidak suka merepotkan banyak orang, mungkin itulah sebabnya Mas Hamid tidak ingin berpamitan.

Tapi kita harus mengikhlaskan, seperti Mas Hamid mengikhlaskan semuanya yang telah dibangunnya, dan mempercayakan sama kita bahwa kita akan bisa tetap saling terhubung dengan jembatannya tersebut.

Selamat jalan Mas Hamid, yang tenang, semoga ditempatkan di sisi Allah SW, ajarkan semua yang disana dengan kesederhanaanmu. Dan jangan lupa, sapa mereka dengan kalimat andalanmu “Kalian lagi ngapain?”

Rekamannya bisa didengarkan di sini, direkam oleh mbak Tikabanget.