obsat hmd

Hai, mas Hamid! Sengaja pakai tanda seru biar kelihatan ndak sedih. Kemarin akhirnya guyub lagi lho mas, temen-temen panjenengan yang ternyata sudah kenal panjenengan sejak 2009 bahkan lebih. Ketemu di Pesta Blogger 2009 katanya, sementara saya sendiri baru kenal 2010.

Ada banyak cerita dari temen-temen betapa kehilangannya mereka terhadap panjenengan, semua bernada sama, mas Hamid itu punya kekuatan untuk menyambungkan banyak orang, ibarat henpon, mas Hamid adalah Nokia-nya kami. Connecting people. Bahkan dalam akhir hidup mas Hamid, mas Hamid masih mampu mempertemukan orang banyak di satu tempat, baik itu di Jogja, maupun di Jakarta.

Dan mas, panjenengan marai (membuat) tiga cowok nangis lho, di obsat, dan adekmu si Mar itu lah. Semua yang lagi ngumpul ya masih berharap tau-tau panjenengan nongol dan bilang “iki ki mah dha ngapa?” (Ini lagi pada ngapain).

Mizan kemarin cerita tentang sebenernya mas Hamid sudah merasa sakit di dada dari malam sebelumnya, dan diiyakan oleh beberapa teman jogja, bahkan sang bapak melarang mas Hamid pergi kerja paginya. Tapi ya begitu mas Hamid, yang keras kepala dan ngeyelan, tetap berangkat ke kantor.

Mendekati jam makan siang, saat mengaduk kopi, di saat itulah jantung mas Hamid berhenti, ada pembuluh darah pecah katanya. Kita semua menunduk, mas Hamid memang punya beberapa penyakit tapi ndak pernah sekalipun mengeluh pada kami, karena malas merepotkan, alasannya. Satu hal pula yang saya kaget, mas Hamid yang begitu cengar cengir dan nyenengke di dekat kami ternyata tidak se-terbuka itu, ketika dilarikan di rumah sakit, beberapa temannya mulai pontang panting menyadari bahwa tidak ada yang tahu di mana mas Hamid tinggal. Sampai membuka kembali memori buku tahunan untuk mencari di mana menghubungi keluarga mas Hamid.

Semua begitu cepat, tapi juga semua begitu banyak yang bergerak untuk membantu keluarga panjenengan, lho, mas! Kata Arga, insya Allah semua urusan administrasi rumah sakit dan pemakaman diperbantukan oleh kami, teman-teman yang panjenengan pertemukan ini, mas. Benar apa kata Baba Rasarab, cuma panjenengan yang boleh nyombong selain takdir.

Tapi yang paling prestasi, mas, panjenengan bisa bikin seorang Aulia Masna menahan nangis di obsat. Trus juga fakta di balik tanggal tiga januari sebagai tanggal lahir di batu nisan panjenengan sementara akun twitter panjenengan itu @duajanuari. Banyak banget yang diceritain dan mungkin terasa kesedihannya karena pengalaman pribadi yang dialami kami dengan panjenengan, mas Hamid. Termasuk cerita saat panjenengan masih pegang “bukti” kisah lama mas gembul dan polisi

Banyak banget yang nulis buat panjenengan, mas Hamid, bahkan di Obsat kemarin, saya berkesempatan membacakan sebuah surat yang baguuuus sekali yang dituliskan oleh mas Linggar.

Mas Hamid yang baik,

Ijinkan aku menyapamu di sana melalui sebuah tulisan dari tangan yang tiap harinya hanya menulis ratusan kata berlogika dan ribuan kata tanpa hati. Melalui surat ini, aku hanya ingin bercerita, berterima kasih, dan meminta maaf untuk banyak hal yang kita lalui dan masih kita rencanakan. Rencana yang mungkin suatu saat bisa membawamu ke Banda Neira, tempat yang selalu dijadikan tolak ukur dari sebuah kesuksesan diri seorang Muhammad Hamid. Jangan salah lho Mas Hamid, begini-begini, aku masih ingat tentang beberapa hal yang kamu inginkan, walaupun kebanyakan dari keinginanmu itu sangat sederhana, yang akhirnya belum bisa aku tepati. Sesederhana pergi ke ibukota dan nongkrong di tepi jalan, menonton kemacetan sambil mengucap syukur bahwa kita tidak hidup di lingkungan itu.

Mas Hamid yang baik,

Aku juga masih ingat, sekitar tahun 2011 sewaktu Mas Hamid masih bekerja di Jakarta, Mas Hamid pernah berkata, “Bring me back to Jogja, Linx”. Walaupun bukan aku yang membawamu balik ke Jogja, tapi aku cukup senang, karena di Jogja kita bisa membuat beberapa mainan dan menggarap beberapa proyek bareng. Yang masih aku ingat sampai sekarang adalah, beberapa proyek yang kita garap bareng itu kita landasi dengan prinsip membantu orang. Dan untuk beberapa hal ketika aku membantu beberapa pihak melalui Mas Hamid, tetapi kita hanya dibayar dengan 2M (Maturnuwun Mas), diikhlaskan saja Mas, ndak usah berkecil hati dan ndak enak sama aku karena belum bisa memberi hal yang sepantasnya untuk apa yang aku lakukan. Jangan pernah ndak enak kalau sama aku, bukankah Mas Hamid sendiri yang menyuruhku untuk mengurangi rasa ndak enak karena aku terlalu pekewuh?

Mas Hamid yang baik,

Mohon maaf karena belum bisa mencarikan handphone yang pas menurut Mas Hamid. Mas Hamid masih ingat kan? Beberapa minggu sebelum Mas Hamid berpulang, Mas Hamid pernah meminta saranku untuk mencari handphone yang pas buat Mas Hamid? Ketika aku memberi saran untuk membeli handphone seharga 4-5 jutaan, Mas Hamid hanya berkata, “Wah, kalau 4-5 jutaan kayaknya over, Neer. Takutnya pas aku angkringan atau burjo dan yang jaga liat-liat handphoneku, dia langsung segan kalau aku kasih tau ketika yang jaga nanyain harganya. Kalau misalnya masih range 1-2 jutaan kan, paling si aa’ cuma bilang, wah, nggak jauh beda sama hape saya euy”. Terima kasih Mas, untuk mengajakku melihat sesuatu dari cara pandang Mas Hamid. Sering aku ndak ngerti dengan beberapa pemikiran dan pandangan Mas Hamid. Tapi tentunya ada beberapa hal yang akhirnya aku mengerti mengapa Mas Hamid berpikiran seperti itu.

Mas Hamid yang baik,

Terima kasih sudah mengajarkan banyak hal ke aku, terima kasih sudah mau mendengarkan curhatku ketika aku sedang pusing mengerjakan beberapa hal. Terima kasih sudah membuatku tertawa ketika Mas Hamid memanggilku “Meneer”, sebuah guyonan sewaktu aku memberikan deadline kepada temanku perihal kerjaan. Terima kasih sudah mengajariku beberapa hal tentang hidup dan tentang kesederhanaan. Terima kasih sudah mengingatkan aku untuk lebih banyak mendengar dan melihat. Aku masih ingat sekali Mas Hamid sering mengatakan, “Manusia itu dikasih Tuhan dua telinga dan dua mata tetapi satu mulut agar manusia lebih banyak mendengar dan melihat daripada berbicara”. Mohon maaf untuk banyak hal yang belum bisa aku tepati dan belum bisa aku jalankan.

Oh iya, masih ingat ketika Mas Hamid dan Mas Jun becanda ada tiga orang IT sangar di Jogja, yaitu si rompi abang, si jaket garis-garis, dan si jaket SKJ? Ternyata tiga orang itu tidaklah sesangar penampilan mereka, tiga orang itu cengeng, tiga orang itu termasuk yang wajahnya paling sedih dan menangis di rumah sakit ketika Mas Hamid sudah ndak ada.

Mungkin itu saja yang ingin aku tulis dan katakan buat Mas Hamid. Pokoknya sudah cukup sedih-sedihannya, aku mau ngelanjutin apa yang sudah kita mulai dan kita rencanakan ke depannya, biar perjalanan kita ndak sia-sia dan menghasilkan, yang paling penting bisa bermanfaat buat orang lain. Baik-baik di sana ya Mas Hamid, tolong sampaikan salamku kalau misalnya Mas Hamid sedang ngobrol-ngobrol di sana dan ndak sengaja kenalan sama Bapakku. Tolong sampaikan ke Bapak, kalau Mas Hamid itu teman baikku, sering aku curhatin perihal kerjaan dan hidup. Sampai jumpa ya Mas Hamid.

Linggar,
Yogyakarta, 22 Mei 2015

Oh ya, temen-temen di telegram juga bikin sticker buat panjenengan, mas :)

Untuk teman-teman bisa juga membaca beberapa postingan tribute to mas Hamid ini (jika ada yang terlewat mohon bantu saya melengkapi listnya ya):

Terima Kasih Telah Membuat Saya Malu ~ @gennasatria

Bahagia dan tidak mati @hmd #RIPHMD ~ @IDBerry

Hamid @hmd dan Cerita Tiga Huruf ~ @matriphe

Nama Teman Itu Adalah Hamid ~ @bernadsatriani

Hae, mar! ~ @ipimaripi

Ada Keriaan Yang Hilang ~ @iwnjw

hmd ~ @dv77

Hamid adalah Mbel Thut! ~ @tey_saja

Yang Kenangan Dua Hamid ~ @McXoem

See You When I See You, Mz ~ @linxlunx

Sampai berjumpa lagi Kang Hamid #NjagongHamid ~ @fachrybafadal

Untukmu Mid ~ @RoySayur

Seluruh lampu sudah kunyalakan ~ @RoySayur

#filmbuatmelek ~ @irfant

Tentang Moö, Perkomboran, dan Hamburger. ~ @omgsapihere

Owsom! ~ @Dony_iswara

Malu itu Sederhana ~ @TravellersID

jagongan hmdDan teman-teman juga bisa berkontribusi di jagongan, untuk mengenang mas Hamid seperti ini:

Disemprit Offside dan Rencana Resign #NjagongHamid ~ @yanarief

Teman Yang Baik #NjagongHamid ~ @Arman_dhani

Berawal Dari Obrolan Random Cara Membuka Tali BH Yang Cepat #NjagongHamid untuk #HMDTersayang ~ @iwnjw

Sebuah Pesan Dari Yang Tersayang – Hamid #NjagongHamid ~ @rifens_tree

“Tep Kudu Keriting Soer” #NjagongHamid ~ @dimsoer

Ikatan Tanpa Kata-kata #NjagongHamid ~ @caplang

Dan, oh oh oh! Satu request terakhir mas Hamid ini, mari diwujudkan!