Emosi

I’m not brave enough to dig deep on myself and only scratch the surface. This makes me so shallow and superficial.

*deep exhales* Okay. Setelah sekian tahun, baru kali ini saya berani mengakui ini. Saya bisa saja sih memberikan ber-lembar lembar hvs untuk mencari justifikasi dan pembenaran saya, tapi ya buat apa? Pada akhirnya jawabannya cuma satu, insecurity, sih. Apapun alasan yang akan saya tunjukkan ya memang inti masalahnya karena insekyur. Dan insecurity ini bisa membuat trainwreck of emotion. Gak kekontrol.

Sedikit banyak ya waktu menempa supaya damage dari trainwreck of emotion ini ngga semakin parah. Tapi tempaan waktu ternyata hanya membuat saya jadi ignorant. Conceal, don’t feel!

Padahal apa yang salah dari “merasakan”?

Saya sering melarikan diri untuk membutuhkan assurance dari orang lain bahwa saya nggak papa. Saya sudah cukup baik. Sesederhana itu. Bahwa apa yang saya perbuat ini bukan kesia-siaan. Bahwa saya tidak menyakiti siapapun.

There are things which I thought so surreal in my life, kadang ketika hal-hal tidak nyata itu datang, saya takut, takut bahwa suatu saat hal itu akan hilang seperti hal-hal sebelumnya. Lalu lebih baik dihancurkan, dijauhkan, ditinggalkan. Mungkin pada akhirnya saya menikmati kesendirian dan perasaan yang selama ini saya kenal, padahal, apa yang salah dari “merasakan”? Termasuk merasakan hal yang sebelum ini belum pernah saya rasakan.

We all have this picture of ourselves, this idea of what kind of person we are. When this idea gets threatened, we can react very defensively.

Bahwa pada akhirnya, seberapapun saya berusaha happy-go-lucky-and-see-the-world-in-bright-side, ya jatuh dalam gelap lalu melihat dunia tanpa berpura-pura naif itu tidak apa-apa. Gelap bukan bagian dari kegagalan yang harus dipikirkan dan dicari siapa yang salah. Dirasakan saja. Dan percaya, pada akhirnya bisa kembali menjadi positif lagi. Bahwa hidup adalah perjalanan, dan entah rute yang kita ambil ini rata atau tidak, tapi pasti rute yang benar. Yang tidak perlu ditutupi perasaan ketakutan tersebut lalu mencari sejuta alasan rasional untuk meyakinkan bahwa rute yang saya ambil ini benar. Dan a little lost can make this life more interesting.

Dan mengeluarkan emosi yang tidak bisa saya keluarkan dengan “normal” itu bisa dilatih, dengan mengakui bahwa saya memang sefragile itu, tanpa perlu me-repressnya begitu kuat. Afterall I’m not a machine, which perfectly oiled and constantly charged up and ready to fire on all cylinders. I am human, which means I falter, I doubt, I feel pain.

Walau saya harus mengakui, berkenalan dengan emosi itu membingungkan dan sesuatu yang harus dikerjakan dengan telaten. Sesungguhnya (bagi saya) sulit menggabungkan berpikir dan merasa, seperti disclosure yang akhirnya saya dapatkan semalam,¬†I should learn to think when I’m busy feeling and learn to feel when I’m busy thinking. This is in fact a journey into consciousness.

choro

Sudah mau tiga puluh tapi tetap lucu kinyis-kinyis. Kinyis-kinyisnya sudah mutlak, lucunya masih dalam tahap diusahakan.

One thought on “Emosi

Leave a Reply