Sebuah kata atau kalimat yang sama bisa menunjukkan tujuan yang berbeda-beda. Apakah kita bersikap ramah? Atau malah sedang berusaha menyerang seseorang secara personal. Hal ini yang disebut “emotional correctness” emosi yang benar. Emotional correctness adalah tekanan, perasaan dari apa yang kita ucapkan, cara kita memperlihatkan rasa menghargai atau kasih kepada orang lain.

Nah, cara kita mengucapkan ini bisa saja mempengaruhi bagaimana mempersuasi orang lain. Karena mempersuasi tidak dimulai dari data, fakta atau bahkan ide-ide kita, tapi cara kita menyampaikan hal-hal tersebut. Orang yang mampu memiliki kemampuan emotional correctness yang baik akan didengarkan orang lain, soalnya kita tidak bisa membuat siapa pun setuju dengan kita kalau mereka bahkan tidak mau mendengarkan kita.

Memang kemampuan emotional correctness ini tidak mudah, apalagi kita bukan Dalai Lama. Tapi tantangan kita adalah untuk menemukan kasih sayang bagi orang lain, yang kita ingin mereka miliki untuk kita. Dengan menemukan cara yang baik untuk didengarkan, kita akan membentuk komunikasi persuasif yang baik dan bisa membawa perubahan. Mungkin mereka belum setuju dengan pendapat, ide atau bahkan fakta yang kita paparkan, tapi mereka mendengarkan, dan mungkin menghargai apa yang kita ucapkan.

~ Terinspirasi dari video ini