15 Oktober kemarin adalah ulang tahun Nietzsche ke-170, tentu saja jika beliau masih hidup, saya teringat perkenalan saya dengan Nietzsche dimulai ketika saya menghabiskan waktu di gudang sebelum saya lulus sekolah menengah. Menemukan “Thus Spoke Zarathustra” dengan ajaibnya karena tidak ada anggota rumah saya yang membaca filsafat (dan sampai sekarang masih menjadi misteri siapa pemilik asli Zarathustra ini). Zarathustra menjadi kitab suci saya menjejakkan kaki mempelajari filsafat semenjak hari tersebut.

Nietzsche adalah sosok penting dalam hidup saya, walau saya membaca banyak filsuf lain seperti Plato, Freud, David Hume atau bahkan Xenophanes, tapi bapak ber-ego tinggi ini tetap menjadi panutan saya, setidaknya dalam beberapa hal. Iya, ber-ego tinggi karena beliau pernah menyebut filsuf lain sebagai cabbage-heads dan mengucapkan:

It is my fate to have to be the first decent human being. I have a terrible fear that I shall one day be pronounced holy.

Dan lihat betapa banyak orang-orang yang bolak balik mengutipnya, entah untuk terdengar pintar atau memang benar-benar paham.

Nietzsche adalah filsuf yang practical dalam memberikan tulisan yang menggambarkan, *ahem* kebijaksanaannya. Sebagai pemuda yang banyak dipengaruhi oleh Schopenhauer dia menuliskan dalam Schopenhauer as Educator di Untimely Meditations nya:

Let the youthful soul look back on life with the question: what have you truly loved up to now, what has elevated your soul, what has mastered it and at the same time delighted it? Place these venerated objects before you in a row, and perhaps they will yield for you, through their nature and their sequence, a law, the fundamental law of your true self. Compare these objects, see how one complements, expands, surpasses, transfigures another, how they form a stepladder upon which you have climbed up to yourself as you are now; for your true nature lies, not hidden deep within you, but immeasurably high above you, or at least above that which you normally take to be yourself.

Ada hubungan unik antara Nietzsche dan Schopenhauer, Nietzsche akhirnya mengalami titik beradu argumen dengan Schopenhauer pada caranya melihat kesulitan, yang kemudian saya menikmati ulang tahun satu setengah abad lebihnya dengan membaca ulang The Will to Power.

To those human beings who are of any concern to me I wish suffering, desolation, sickness, ill-treatment, indignities — I wish that they should not remain unfamiliar with profound self-contempt, the torture of self-mistrust, the wretchedness of the vanquished: I have no pity for them, because I wish them the only thing that can prove today whether one is worth anything or not — that one endures.

Adalah kutipan favorit saya dalam buku ini, dalam chapter “Types of my disciples”. Di antara para cabbage-heads, Nietzsche telah menyadari bahwa kesulitan (apapun itu) harus disambut oleh mereka yang mencari fulfilment.

Sepuluh tahun setelah pertemuannya dengan Schopenhauer ia menceritakan dalam surat pada istri keduanya:

Would you be amazed if I confess something that has gradually come about, but which has more or less suddenly entered my consciousness: a disagreement with Schopenhauer’s teaching? On virtually all general propositions I am not on his side.

Ha! Titik balik inilah, di mana Nietzsche mendukung semua *ahem* fansnya untuk merengkuh kesulitan sebagai kesempatan pemenuhan diri, yang kemudian digambarkan dengan baik oleh Alain de Botton di The Consolations of Philosophy:

Because fulfillment is an illusion, the wise must devote themselves to avoiding pain rather than seeking pleasure, living quietly, as Schopenhauer counseled, ‘in a small fireproof room’ — advice that now struck Nietzsche as both timid and untrue, a perverse attempt to dwell, as he was to put it pejoratively several years later, ‘hidden in forests like shy deer.’ Fulfillment was to be reached not by avoiding pain, but by recognizing its role as a natural, inevitable step on the way to reaching anything good.

Lebih jauh, hal ini bisa memancing diskusi nihilisme yang mungkin bisa menjadi tulisan panjang sendiri. Membaca filsafat dan cara berpikir tiap filsuf, yang hidup dalam perbedaan masa, adalah salah satu objek menarik untuk menghabiskan waktu secara elegan dan diaplikasikan pada topik lain. Terlepas daripada hubungan masing-masing para filsuf, membaca perspektif yang berbeda akan sangat berguna dalam proses berpikir manusia pada umumnya. Setidaknya menurut saya. Selamat ulang tahun ke 170, Nietzsche! Terimakasih!

Nietzsche