Kalian tahu dongeng gembala pembohong yang terkenal dari Aesop Fables ?

Di suatu desa ada seorang anak gembala yang nakal dan usil. Suatu hari, dia punya ide jahat untuk membohongi warga desa. Dia berteriak keras, “Ada serigala! Ada serigala! Tolong… tolong…tolong!” “Serigala mau makan kambing-kambing kita.” Dia berharap warga desa mendengar teriakannya dan segera berlari ke arah padang rumput.

Warga desa yang mendengar teriakan anak itu segera berlari ke padang rumput untuk menyelamatkan kambing-kambing mereka. Namun ketika mereka sampai, ternyata tidak ada serigala. Hanya anak gembala itu yang tertawa terpingkal-pingkal melihat warga desa yang telah dibohonginya.

Keesokan harinya, anak gembala tersebut mengulangi tipuannya. Dia berteriak lebih keras dari sebelumnya, “ada serigala…. Ada serigala… kambing-kambing kita mau dimakan… Warga desa kembali bergegas hendak menyelamatkan kambing-kambing mereka. Anak gembala itu kembali tertawa terpingkal-pingkal.

Sampai pada suatu hari, segerombolan serigala benar-benar datang menghampiri kambing-kambing anak gembala itu. Si anak gembala begitu ketakutan dan segera berteriak keras sekali, “Tolooong… toloooong, ada serigala mau makan kambing kambing ku, tolong!” Para warga desa mendengar teriakan anak gembala itu. Namun mereka diam saja, dikira pasti itu tipuan anak gembala itu lagi. Maka mereka diam saja di desa meneruskan ppekerjaan mereka. Malang si anak gembala, semua kambingnya habis dimakan serigala.

Eh, apa apaan ini chor? Kamu mau nuduh kami semua ini pembohong yang jahat?

Eits sebentar, santai dulu dong bacanya.

Iya, ini saya tulis karena kejadian kemarin hebohnya penyebaran cerita tentang anak yang diculik tapi ternyata belum ada yang konfirmasi kemudian dalam waktu singkat cerita berbolak balik arah dan menjurus ke arah fitnah. Masalahnya (menurut saya) ini bukan kasus pertama namun kita semua seperti bangsa yang permisif lalu tanpa bertanggung jawab ikut menyebarkan sesuatu yang kita gak tahu.

HAH? Gak bertanggung jawab? Maksud kamu apa chor? Ngajak ribut kamu?

Engggaaaakk, gini lho, sebelumnya saya pernah menulis begini di sini:

I do believe most people have good intentions and want to help spread the “news” as quickly as possible, but when doing it naively, you could become a victim of someone who wants to use the power of people’s eagerness to spread lies. Always consider how the images and videos you publish might be interpreted, and what level of information they are displaying. Think before you post. Think before you share. What you share online, any text message, picture, email or status update, has the potential to be seen beyond where you intended it to.

Saya sangat sangat percaya bahwa kita semua punya niat baik ketika menyebarkan berita tanpa pikir panjang, tapi sekali lagi, mbok yao sejenak saja berpikir, bagaimana jika berita yang kita sebarkan ternyata tidak bisa kita pertanggung jawabkan? Saya ini percaya kalau apa yang kita lakukan di dunia online akan melekat erat dengan reputasi kita. Bagaimana jika niat baik kita yang ternyata berbuntut menyiram bensin di api yang tidak jelas membakar apa malah merusak reputasi kita?

Tapi lebih baik menyebarkan berita daripada kami pura-pura tutup mata chor! Gimana kalo gak ada orang-orang seperti kami dan semua orang jadi mati rasa ingin membantunya!

Eits, jangan ngambil sisi ekstrim dooooong, tidak membantu menyebarkan berita bukan berarti anda tutup mata dan ga bermoral lho. Gini, saya ini sering kok menggunakan sistem broadcast “Please share” di internet, salah satunya saya pernah dimintai tolong teman untuk menyebarkan masalah penyelamatan anjing di Semanggi karena kebetulan teman saya terjebak jam kerja, sementara setidaknya butuh bantuan supaya anjing-anjing ini bisa dijagain sementara sampai jam pulang kerja. Saya mempost berita ini di-path setelah saya tanya dan konfirmasi detail tentang lokasi anjing ini dan ke mana orang-orang bisa menghubungi jika ingin membantu.

NAH, masalahnya setelah saya post dengan detail siapa yang harus dihubungi ini ternyata tersebar dengan cerita yang dipotong-potong dan agak blunder. Untung ini masalah anjing, bukan nyawa manusia. Coba sekarang gimana kalo kalian menyebarkan berita tentang penyelamatan nyawa manusia dari tangan ke sekian yang sudah dipotong potong sekenanya oleh orang lain?

Setidaknya, cobalah mencari tahu sehingga ketika kita menyebarkan sesuatu kita juga mampu mempertanggung jawabkan apa yang kita lakukan. Demi yang ingin kita bantu juga, kan.

Ah tapi kan nggak papa chor, mereka juga ga di penjara karena kita nyebar berita ini kan?

Sebentar, ini ada jaminannya kalo kita menyebarkan berita dan ga berefek ke objek yang kita sebarkan? Bagaimana jika di ujung sana objek jadi dipukuli karena orang terbakar isi berita? Atau gimana kalau objek ini kemudian di-harass karena dianggap psycho karena berita yang kita sebarkan secara tendensius menyebut dia psycho?

Bukan kasus pertama sebenernya kalau kita mau pelan-pelan membaca apa yang dulu pernah mendadak viral, dari kasus penculikan anak tahu-tahu ternyata teaser film lokal, atau bahkan karena statement di media sosial, seseorang jadi ditahan oleh kepolisian!

Masalahnya kita jadi bangsa yang permisif dan menjadikan pekerjaan tangan kita sendiri sebagai teman makan pisang goreng dan teh hangat besok sore sambil ketawa ketawa, sambil tidak memikirkan apa yang sudah menjadi efek bagi orang lain, terutama objek yang kita sebarkan.

Alah, sok suci kamu chor!

Hahaha, yah apa boleh buat jika saya tetap dianggap seperti itu. Saya cuma berharap bahwa semoga kita tidak menjadi gembala gembala pembohong era 2.0, yang akhirnya membuat orang tidak mempercayai lagi berita yang tersebar di media sosial. Bagaimanapun, kita adalah gembala yang ada di ladang internet Indonesia. Masalahnya, bisakah kita menjadi gembala yang dapat dipercaya oleh teman kita sendiri (apabila kalangan netizen terlalu luas) dengan bisa mempertanggung jawabkan apa yang kita sebarkan?

Saya tidak menyuruh anda menjadi antipati dan apatis pada berita yang mendadak viral di internet, tapi setidaknya, sejenak saja, cari tahu dan berpikir sebelum kita memencet tombol share. Saya percaya, anda semua bukan korban dari The Backfire Effect.