Jangkar satu-satunya penjaga batas antara kesadaran dan imajinasi tiba-tiba tak berfungsi.

Kamu.

Iya, aku selalu punya masalah pada pergerakan semesta dalam kepalaku, makanya aku tak pernah percaya puisi tentang semesta. Karena dalam duniaku, sebelum bertemu kamu, tidak ada istirahat, siang, ataupun malam. Yang ada maraton terus menerus tanpa henti, karena pikiran ini menjelajah ke seluruh batas-batas yang bisa didorong jauh.

Kamu yang membuatku berhenti.

Kamu yang membuatku terdiam.

Lalu dalam diam, pikiran-pikiran mulai berkunjung, mengetuk sambil tertawa riang. Tahu kan, tawa yang biasanya kamu dengar sebelum ada adegan jerit-menjerit dalam film pembunuhan?

Tapi setidaknya semalam aku menikmati diam, bukan karena tidak nyaman, karena tiba-tiba di dekat kamu, penghuni kepala menghilang. Tidak ada ricuh dan teriakan yang membuatku harus segera menjejalnya dengan bergelas-gelas kafein, atau alkohol, atau nikotin. Mana yang lebih dekat.

Karena lebih tenang ketika otak berhasil dimatikan sementara, hanya menikmati tarikan nafasmu pelan-pelan, atau menyamakan gerakan dadamu, atau mencuri-curi gesekan hidungmu.

Lipatan dada kiriku masih ditarik-tarik cuak, aku membebanimu.

Tapi, aku butuh kamu.

Dan perasaan butuhku, setidaknya malam itu, jauh lebih besar daripada memikirkan tentang kamu. Egosentris sekali, kan. Aku bukan diam karena takut membungkam, karena aku sedang menikmati diam.

Lalu ketika mata lepas terpejam, datanglah remai di dada. Rasanya seperti jantung berhenti berdetak lalu sesak.

Tersiksa, dan nanar.

Gelagap.

Apa yang menghalangiku untuk rebah? Ini bukan mimpi buruk yang biasa, yang mencekik setiap pagi buta. Seperti tak diijinkan untuk diam, atau mungkin kepalaku ingin bunuh diri dengan terus berlari?

Atau karena sebagian dari diriku sudah menjadi cacat, gila, karena terlalu candu akan kamu?