Go-Jek, Ngojek Digital

Gojek-dikamarmandiinSaya punya pengakuan, saya belum pernah naik go-jek! Bukan karena malas atau gengsi, lebih karena saya sendiri pengendara motor, opsi naik ojek biasanya jadi opsi ke-sekian karena motor bukan barang baru bagi saya.

Yang kedua, layanan mirip ini ada di jogja, namanya O’jack, di mana kamu booking ojek melalui telepon, dan layanan ojek tersebut menggunakan argo per kilometernya. Mungkin ngga apple to apple kalo dibandingkan ke Go-Jek, tapi keduanya upgrade sistem dibandingkan layanan ojek yang konvensional. Kali ini saya iseng ingin mencoba menikmati layanan ngojek digital karena sebuah pemberitaan yang sedang ramai di dunia maya, sekaligus merasakan promo hingga ramadhan di mana all services selain peak time dihargai sepuluh ribu saja.

Namanya M. Haryanto, mantan tukang ojek di Pondok Indah yang merupakan angkatan awal (halah, ada istilah angkatan awal?) layanan go-jek ini. Kesan pertama saya, bapak M. Haryanto ini sangat ramah, mengalahkan supir taksi dan supir Uber yang bertanya apakah saya sudah nyaman sebelum kendaraan berangkat. Saya juga ditawari masker dan penutup rambut dan helm yang kondisinya jauh lebih oke daripada helm saya sendiri.

Sepanjang perjalanan bapak Haryanto memberi banyak cerita bahwa dia sangat puas dan senang bergabung dengan Go-Jek, bahkan bisa menyebutnya “perusahaan”, seolah-olah mata pencahariaannya sudah sama berkelasnya dengan karyawan kantoran. Sistem di Go-jek memang bagi hasil, tapi pak Haryanto sendiri tidak merasa merugi, karena sistem order Go-Jek membuat dia tidak membuang waktunya untuk ngetem dan ngantri dengan tukang ojek lain menunggu giliran. Sebuah hal yang dia rasakan sangat sangat sangat bermanfaat.

Pengakuan bapak Haryanto, ketika dia menjadi supir ojek konvensional sangat sulit bisa mencapai penghasilan 100 atau 150 ribu per hari, sementara dengan go-jek, bisa jauh berkali-kali lipat. Dari perusahaan Go-Jek ia dibuatkan rekening ponsel, bekerja sama dengan bank CIMB Niaga. Nomer handphonenya adalah rekeningnya, sungguh memudahkan bagi mereka yang kurang melek dunia per-banking-an katanya sambil terkekeh.

Go-Jek memiliki sistem top-up dengan bagi hasil kepada supirnya. Di rekening ponsel ini secara otomatis saldo akan dipotong atau ditambahkan sesuai dengan bagaimana pelanggan melakukan pembayaran. Kata Pak Haryanto, apabila pelanggan membayar menggunakan kredit tidak berarti tidak bisa dicairkan, pak Haryanto hanya butuh mengkonfirmasi kepada bagian finance Go-Jek jika ingin mencairkan penghasilannya dari rekeningnya.

Lalu bagaimana ketika promo kredit dan promo satu tarif akhir-akhir ini? Pak Haryanto tertawa dan bilang tidak merasa rugi, karena yang diterima oleh mereka adalah tarif aslinya, sementara program satu harga ini ditanggung oleh Go-Jek. Yang menyenangkan dari program ini, antrian orderan semakin membludak dan artinya semakin besar chance mereka untuk mendapatkan penghasilan.

Begitu juga dengan promo antar makanan beberapa waktu sebelumnya, kita sebagai pelanggan memang tidak melakukan pembayaran atas jasa antar mereka, tapi sebagai kurir, supir Go-Jek sama sekali tidak kehilangan haknya. Orderan yang semakin padat ini juga justru membuat mereka bisa mencapai target. Iya, target.

Berbeda dengan taksi yang targetnya adalah jumlah setoran, para supir Go-Jek ini ditarget melakukan beberapa kali jasa dalam waktu sehari, apabila tercapai mereka akan diberi bonus sejumlah rupiah yang langsung masuk di rekening ponsel mereka.

Saya bertanya, apakah sulit untuk mencapai target ini? Bapak Haryanto bilang, kendali penghasilan sepenuhnya ada di tangan supir Go-Jek. Apabila dia mau terus menerus mengambil order, target tersebut bisa dicapai sebelum hari habis. Pernah juga tanpa sadar karena dia begitu bersemangan menerima orderan, dia sudah sampai di Bekasi karena pelanggannya minta diantar ke Bekasi. Sungguh khanmaen warbyasak!

Kendala handphone yang digunakan pun ternyata juga sudah dicover oleh perusahaan Go-Jek. Handphone diberikan pada mereka dengan bandrol harga tujuh ratus ribu rupiah, yang kemudian akan dipotong dari rekening mereka setiap minggu hingga “cicilan” handphone ini lunas. Sementara motor, bensin dan pulsa barulah ditanggung si kurir sendiri.

Bapak Haryanto juga berkata, teman-teman ojek mangkalnya juga puas dan senang dengan adanya layanan Go-Jek ini, bahkan banyak juga orang yang bukan tukang ojek jadi ikutan menjadi kurir Go-Jek. Saya sendiri juga puas dan senang, apalagi sistem cashless ini sungguh membantu saya untuk tidak nego dan tidak riwil cari recehan kalo misalnya mau eyel-eyelan nawar sama tukang ojek.

Eh ini bukan postingan berbayar, ini posting kebanggaan karena saya telat kekinian.

choro

Sudah mau tiga puluh tapi tetap lucu kinyis-kinyis. Kinyis-kinyisnya sudah mutlak, lucunya masih dalam tahap diusahakan.

2 thoughts on “Go-Jek, Ngojek Digital

  • June 11, 2015 at 06:12
    Permalink

    Pake refferal ini buat nambahin GJek Credit kamu:
    538589559

    Reply
  • June 18, 2015 at 12:20
    Permalink

    Saya jadi pengin nggojek, asal jangan jauh2 :)

    Reply

Leave a Reply