Berapa lama manusia mampu menyimpan kenangannya?

Dan berapa kali manusia berani mengunjungi kotak memori untuk menghadapi masa lalu-nya?

Aku melakukannya berkali-kali, setiap hari, menjaga masa lalu sambil hidup di masa kini untuk merajut masa depan. Melihat dan mengingat dari mana aku berasal dan menjadi apa aku sekarang.

Dan kamu, Tuan, bukankah sudah kukatakan enam tahun silam, aku tak kan berpamit mengatakan selamat tinggal, tapi tak juga menyembunyikan hati ini dalam kulkas untuk membekukannya. Karena aku tahu, suatu saat nanti Tuan akan mengunjungi masa lalu dan ketika Tuan melihatku, aku akan membuktikan bahwa tidak perlu menghindari masa lalu hanya untuk tidak terluka. Bahwa pada akhirnya aku adalah tempatmu berasal, dan tempatmu kembali dengan perasaan yang berbeda.

Tapi kamu benar, aku yang sekarang sudah berbeda, aku yang sekarang tidak lagi menganggapmu sebagai kesedihan, dan aku tidak akan menuntutmu membiarkanku mencintai orang lain, karena masa sekarangku, Tuan, memang bukan lagi tentang kamu. Maka ketika kamu akan berkata memaksa, “aku gak mau kamu berhenti mencintaiku!” aku bisa tersenyum dan berkata, “kalau begitu biarkanlah aku mencintaimu, Tuan.” Aku mencintai mereka yang membiarkan dirinya aku cintai, Tuan. Sesederhana itu.

Yang kusimpan tentang kamu di masa lalu bukan dendam kepadamu, Tuan. Aku menyimpannya dengan adil, dengan arsip-arsip terpisah pada kotak-kotak kecil bernama kamu, dengan label kebahagiaan, kemarahan, kemenangan, kesedihan, sesuai pada porsi kenyataannya masing-masing. Maka ketika kamu bertanya, “apa kamu masih mencintaiku?” Aku hanya bisa menjawab, “aku pernah mencintaimu.” Tapi cinta itu masih ada di sana, di arsip ketika aku masih berusia 18 tahun dan kamu 21 tahun.

Maka Tuan, permintaanmu menghapuskanmu dari memoriku, tidak akan pernah bisa aku kabulkan. Walau kamu memilih pergi dari kehidupanku, tidak akan merubah apa yang pernah aku punya denganmu dulu.

Dan aku sudah akan 24, Tuan. Sama seperti kamu mengeluh, “aku sudah mau 27 e chor.” Aku tidak akan memaksa kamu membuat keputusan, lagi. Aku tidak akan berusaha menganggap kepastian adalah jalan terbaik untuk semua manusia jalani, lalu memaksakannya kepadamu, tapi setidaknya terbaik untuk aku jalani. Dan ketika kamu bercerita, bahwa kamu belum juga berubah, masih juga hilang timbul dengan perasaan meragumu, aku akan tetap di sini, menjalani jalanku sendiri, bukan menunggu kamu. Dan ketika suatu saat nanti jalan kita di masa depan akan berpotongan, aku akan tetap menjalaninya. Tidak akan menghindarinya. Seperti itulah kira-kira.