Jajan Saham untuk Kebebasan Finansial

Dulu ketika saya SD saya pernah membaca di majalah anak-anak tentang apa itu saham, lupa-lupa ingat, tapi modelnya cerpen, cerita seorang ayah yang mengenalkan apa itu saham dan lot pada anaknya. Pada saat itu, 1 lot masih berisi 500 lembar saham, dan hanya bisa melakukan pembelian dengan menelepon broker saham dan melakukan pembelian secara manual. Tapi saat ini sistem sudah berubah, kamu bisa menjadi pemilik saham secara online hanya dengan memiliki RDN di bank dan membeli saham secara online. Saya sendiri baru bergabung memiliki akun RDN atau Rekening Dana Nasabah (rekening dana yang dibuka di Bank yang menjadi partner dari palang saham tempat dimana investor menjadi nasabah) di tahun 2016, untuk mulai menabung saham dan membeli saham online melalui IPOTGO dari Indopremier yang bisa online trading melalui Android ataupun iOS.

Sekitar tahun 2014, BEI melakukan perubahan lot size di bursa, dari 500 lembar saham menjadi hanya 100 lembar saham, yang artinya jumlah pembelian minimal untuk membeli saham jadi jauh lebih terjangkau, sehingga pembelian saham tidak lagi jadi makanan orang-orang berduit banget. Bahkan, saham bisa dianggep “jajanan” karena saya bisa beli 1 lot saham dengan modal 100 ribu atau kurang.

Tanggal 22 Juni 2019 kemarin saya diundang ke acara Maximize Your Rupiah with Indopremier untuk mendapatkan informasi mengenai bursa saham langsung dari Marco Poetra Kawat selaku Kepala Kantor Perwakilan DKI Jakarta BEI. Sekalian belajar, sekalian melihat apa dan bagaimana sistem kerja di Bursa Efek.

Di tahun 2019, hingga bulan Juni kemarin, jumlah transaksi rata-rata harian di bursa efek bisa mencapai 9,9T dan lebih dari 14 juta saham dijual belikan, dan angka ini terus menerus naik setiap tahun. Hanya saja, 51% transaksi di BEI dilakukan oleh pemain asing, dan hanya 0.36% penduduk Indonesia yang menjadi nasabah saham saat ini. Tentu saja sangat disayangkan mengingat pelan-pelan, Indonesia bertransisi dari saving society menjadi investing society.

Padahal ada banyak keuntungan yang didapatkan dari memiliki saham; selain dividen dan corporate action lain seperti stock split, buy back, right issue, saham bonus, ada juga capital gain, yaitu perbedaan harga ketika membeli dan menjual saham.

Salah satu contoh capital gain adalah saham MAPI yang saat itu dalam waktu seminggu naik hingga 9.04%, dengan asumsi kita memiliki 10 lot (atau hanya bermodalkan Rp 885,000 saja) dalam seminggu kita sudah mendapatkan Rp 80,000 karena menjual seharga Rp 965,000. Dalam transaksi saham, tentu saja hal ini disebut potential gain, di mana keuntungan hanya bisa terjadi jika dan hanya jika kalian melakukan transaksi jual ataupun beli.

Yang menarik, ternyata ketakutan bahwa “main saham” bisa berakibat bangkrut tidak beralasan, BEI sendiri mengantisipasi dengan memberikan angka maksimal harga saham turun dalam sehari sebesar 20-35% saja. Dengan memahami profil resiko diri kita (alias, seberapa tahan kita menerima kerugian) kita bisa memilih untuk menjual terlebih dahulu atau menambah pembelian saham lagi, karena masih berupa potential loss, kita tidak benar-benar rugi sebelum benar-benar menjual saham tersebut.

Topik jual-beli saham ini menjadi menarik karena IHSG sangat kuat di tahun 2019, setidaknya bulan Juni sendiri IHSG menguat hingga 5.4% dalam waktu 1 bulan (per tanggal 29 Juni 2019) sementara pergerakan inflasi bulanan menurut BI masih di bawah 5%. Yang artinya memiliki dan mempercayai saham di Bursa Efek Indonesia, kita masih bisa berada di atas tingkat inflasi. Selain itu, pembagian dividen juga jadi pendapatan pasif yang menarik sesuai dengan kemampuan kita menabung saham. Sebagai contoh saham MAPI tadi, dividen per lembar saham adalah Rp 10 yang terbit di bulan Mei 2019, kalau kita masuk di bulan Januari dengan harga 780 saja, dalam waktu 4 bulan kita sudah mendapatkan 0.01% tambahan uang, tanpa melakukan apapun.

Trus untuk “jajan saham” sebaiknya mulai dari mana? Paling mudah memilih saham adalah dari yang produknya dipakai setiap hari. Setelah mendapatkan gambaran tentang dinamika pergerakan saham, kamu bisa mulai belajar teknisnya, analisa keuangannya, juga analisa diri sendiri bagaimana profile resikokamu, apakah trader, apakah menabung, apakah siap dengan capital loss, jika ya sampai berapa %, apakah mengejar untung dan langsung jual ketika dapat untung sekian persen.

Tapi ingat, saham itu punya kesamaan dengan tabungan, keduanya butuh sebuah rekening. Tapi yang jadi perbedaan adalah, jika kamu membuka rekening tabungan kamu bakal ke kantor cabang bank terkait. Sedangkan kalau kamu ingin membuka rekening saham atau rekening efek, kamu harus melalui perusahaan sekuritas atau broker. Saya sendiri menabung saham dan membeli saham online melalui IPOTGO dari Indopremier yang bisa online trading melalui Android ataupun iOS. Menariknya, di Indopremier kamu sekarang sudah bisa melakukan e-kyc dan cukup menyiapkan dokumen dan menyelesaikan semuanya secara online, langsung dari handphone kamu. Setelah rekening efek sudah ada dan aplikasi sudah diinstall. Selamat, kamu sudah bisa investasi saham sekarang juga!

choro

Sudah mau tiga puluh tapi tetap lucu kinyis-kinyis. Kinyis-kinyisnya sudah mutlak, lucunya masih dalam tahap diusahakan.

Leave a Reply