Suatu hari di tahun 2000, bapak saya menunjukkan salah harta karunnya, buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” milik Raden Ajeng Kartini, yang diterbitkan oleh Balai Pustaka di tahun 1920-an.

Semua orang sudah tau apa itu Habis Gelap Terbitlah Terang, buku kumpulan surat-surat seorang keturunan bangsawan Jawa yang berusaha melawan adat yang mengukung mimpinya. Tentang pertarungan batinnya memilih keinginan dia dan cintanya kepada orang tuanya. Curahan kata dari semangat muda Kartini untuk maju, sekolah, memperoleh pendidikan dan setara dengan kaum lelaki. Pemujaan pada Eropa, kemarahannya pada budaya, adat dan agama yang menurutnya mengukung dan mengekang, hingga peralihan tulisannya menjadi lebih dewasa dan realistis.

Pada akhirnya, dia menuliskan sebuah surat kepada temannya tentang kecintaannya pada ayahnya walau sering berbeda prinsip dan cara pandang:

Ia dapat begitu lembut, dan dengan lunaknya mengambil kepadaku pada kedua belah tangannya, begitu hangat dan mesranya tangannya merangkul daku, untuk melindungi aku daripada bencana yang datang menghampiri. Ada aku rasai cintaku yang tiada terbatas kepadanya dan aku menjadi bangga, menjadi berbahagia karenanya.

(Jepara 25 Mei 1899, kepada Estella Zeehandelaar)

Perjuangan Kartini, setidaknya bagi saya selama ini, bukan hanya usaha Kartini sebagai perempuan menjadikan perempuan sebagai entitas sepadan dan terpisah dari lelaki. Pada akhirnya, lelaki (dalam hal ini, sang ayah, Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat) punya andil yang sama besar dalam perjuangan pergerakan perempuan. Dengan cinta dan dukungan yang terus membuat Kartini terus bahagia dan bangga menjejaki jalannya. Maka hari Kartini bukanlah hari spesial khusus milik perempuan. Hari ini, perjuangan yang sama dilakukan baik perempuan dan lelaki. Berjuang untuk memajukan dan memberi cinta pada siapapun.

Seenggaknya itu kata Bapak saya juga.

Tulisan ini tadinya saya post di path juga dalam versi lebih pendek. Selamat Hari Kartini, perempuan dan lelaki. Selamat berbahagia! :)

Kartini choro path