Kita sudah menggunakan channel media sosial seperti Facebook, Twitter, dan LinkedIn untuk tetap terhubung dengan teman, keluarga atau bahkan kolega kerja. Masalahnya ketika kita memilih untuk berkomunikasi melalui media sosial mengenai pekerjaan, kita semua adalah duta perusahaan. Apa pun pengaturan privasi yang telah kita buat, orang masih mungkin melihat konten yang kita bagikan pada situs jejaring sosial.

Terdapat perbedaan besar antara berbicara ‘mewakili’ perusahaan dan berbicara ‘tentang’ perusahaan. Itulah sebabnya perlu adanya panduan yang membantu melindungi perusahaan dari perusakan reputasi dan membantu menghindarkan karyawan dari konsekuensi pribadi yang negatif.

Social-Media-Policy

Kenapa saya mencontohkan studi kasusnya pada Danis Darusman?

29 Juni kemarin Danis Darusman protes keras kepada Lazada karena pesanan smartphone-nya berubah menjadi sabun batang. Yang menjadi masalah adalah, Danis Darusman ternyata adalah Merchandise Manager di elevenia, yang merupakan kompetitor Lazada.

Para ahli teori konspirasi lalu menuduh dan menduga-duga apakah tujuan dari Danis Darusman marah-marah di channel media sosial. Walau banyak juga yang merasa tidak ada relativitas antara “komplain”  Danis Darusman dengan status pekerjaannya.

Masalah ini yang menjadi studi kasus menarik tentang pentingnya klausa media sosial dalam kontrak karyawan bahwa mereka harus berhati-hati dalam memposting sesuatu di media sosial. Dan harus ada konsekuensi legal dan administratif dari perusahaan.

Kenapa?

Karena karyawan sejatinya adalah brand ambassador paling berpengaruh dari sebuah perusahaan, penggunaan “resmi” ataupun personal media sosial karyawan seharusnya mendapatkan persetujuan dari tim komunikasi perusahaan. Berlebihan?

Masalahnya begini, terlepas daripada apa niat Danis Darusman, menjelekkan kompetitor itu melanggar kode etik. Seorang karyawan haruslah paham bahwa, media sosial itu juga sebuah media, ada konsekuensi akan apa yang dia post, dan bisa berpengaruh pada employernya. Apalagi kalo sudah di manajemen level, apa yang dilakukan mau tidak mau akan dikaitkan ke perusahaan/employernya, cakupan media sosial itu bukan hanya masalah kepentingan pribadi tapi jauh lebih luas daripada itu.

Ingat, Danis Darusman sepantasnya bertanggung jawab penuh atas segala publikasi onlinenya. Bahwa semua hal yang dia sampaikan atau publikasikan memberi kesan tentang caranya bekerja. Maka, berhati-hatilah mengenai kemungkinan timbulnya salah persepsi, khususnya lintas bahasa dan budaya yang berbeda.

Nasihat terbaik adalah memperlakukan dunia online seperti bagaimana karyawan memperlakukan dunia fisik – dengan menggunakan pertimbangan yang matang dan akal sehat. Beberapa perusahaan bahkan memiliki brand fanaticism yang tinggi dan berharap karyawan tidak mengkonsumsi produk kompetitor, mungkin boleh jadi konsumen, tapi tidak diumbar di media sosial.

Lagipula, ada banyak jalan untuk menyampaikan komplain, dan media sosial harusnya jadi pilihan terakhir. Penting diingat juga untuk membedakan komplain dengan marah-marah dan menyerang, bagaimanapun, karyawan apalagi di manajemen level bukan lah anak kecil yang kalau shock dan kecewa lalu marah marah tantrum kan? Apabila pun kompetitor memang memiliki kesalahan, sunguh tidak etis menjelekkan kompetitor karena berkesan tidak objektif (dan maaf) tolol.

Ingat, you are what you post.

Employee-Use-of-Social-Media-Risks-Impacts