Sebelum semuanya terperangah karena melihat saya menuliskan tulisan yang maha serius dan berat ini, percayalah, saya memang terlihat awesome ketika menuliskan postingan ini.

Awal tahun 2013, Marc Andreessen, Co-founder Netscape memprediksikan kematian total ritel tradisional dengan bertumbuhnya e-commerce 2.0. Dan yang menarik ada artikel pada tahun 1999 yang ditulis oleh Ed Zimmer yang sudah memprediksi hal yang sama.

Tidak diragukan teknologi digital memang mengubah indutri ritel, terutama kemudahan akses dari digital devices-nya. Belum lagi generasi Z yang lebih memilih online daripada mengunjungi toko ritel, generasi Z akan menjadi konsumen utama bisnis setidaknya sepuluh tahun mendatang.

Banyak yang tidak percaya dunia ritel tradisional akan mati. Sayangnya, di Amerika, Radio Shack, salah satu retailer terbesar yang memiliki 5,200 toko di Amerika mengumumkan akan menutup 1,100 tokonya. Staples akan menutup 225 toko dari 1,846 tokonya di Amerika Utara pada akhir 2015 mendatang, Best Buy menutup 100 toko dan 1,100 tokonya dan banyak lagi angka-angka toko tertutup di sana.

Selama 20 tahun terakhir, penjualan e-commerce telah meningkat sebanyak 6% dan diprediksi akan meningkat hingga 18% pada tahun 2030. Dengan pangsa pasar yang lebih besar setiap tahunnya. Pada saat ini angka 6% terlihat belum besar, namun e-commerce saat ini berada pada tahap awal dari kurva eksponensial.

Ada satu alasan banyaknya orang bertahan dengan ritel tradisional, saat ini ritel tradisional punya satu keuntungan signifikan untuk konsumen daripada pembelian online, instant gratification. Mendapatkan apa yang dibeli dalam waktu singkat, bukan menunggu pengiriman dahulu. Tapi perlahan, Amazon dan Google sudah menawarkan pengiriman satu-hari dan bahkan Amazon sudah mengembangkam Amazon Prime Air, yang menjanjikan pengiriman dalam waktu 30 menit saja bagi konsumennya. E-commerce juga sudah berada dalam titik kurva eksponensial dalam instant gratificationnya.

Sempat bekerja di dunia ritel tradisional, saya merasa bahwa banyak investor berpikir bahwa ritel omnichannel adalah jawaban paling baik dalam menghadapi pergeseran gaya belanja saat ini. Bagi calon-calon ritel omnichannel, website dan aplikasi mobile bukan dianggap sebagai jasa pesan-antar tapi merupakan pintu agar konsumen datang ke toko. Dan toko juga tidak hanya sekedar ruang pamer fisik, melainkan tempat yang sudah digitally-enabled.

Padahal menurut saya, ritel omnichannel bukanlah jawaban, konsumen utama (yang menghabiskan banyak uang untuk belanja) paham bahwa pada akhirnya berbelanja bukan sekedar transaksi semata. Melainkan buying experience, yang merasakan (kalau boleh lebay) the shopping sparks, yang membuat mereka ingin berbelanja di sebuah tempat. Transaksi semata bisa dilakukan secara online. Sayangnya, banyak yang melupakan bahwa buying experience di toko tidak banyak berubah dalam 20 tahun terakhir ini. Secara teoritis, memang ritel omnichannel bisa berintegrasi dengan baik dengan ritel tradisional dan e-commerce, tapi tanpa mengembangkan buying experience di toko fisiknya? Saya percaya apa yang diramalkan Marc Andreessen akan menjadi kenyataan.

PS: Artikel Forbes ini bisa dijadikan perbandingan.