Setiap orang tahu, pada awal sebuah hubungan, seks menjadi kebutuhan yang bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja. Lalu setelah sebuah hubungan berjalan lebih lama, kebutuhan ini berkurang. Beberapa berkata kita terlalu sibuk, atau capek, atau yang paling standar, not in the mood.

Lalu kenapa “mood” ini bisa menghilang?

Untuk memahami rangsangan secara psikis ini, kita harus kembali ke hari-hari awal di mana kita selalu “in the mood” nyaris setiap waktu. Yang “indah” saat itu adalah kemampuan kita untuk menyentuh, memeluk, menggenggam, mengocok (…okay), yang dalam kata singkat, memiliki, seseorang yang tidak selalu tergapai oleh kita, seseorang yang mandiri, yang bisa pergi begitu saja dari kehidupan kita, namun secara ajaib memilih untuk tetap bersama kita. Sehingga dalam rumus bisa dituliskan seperti ini:

Sexiness = Possession + Freedom

Rangasangan itu ada karena perasaan bahwa pasangan kita telah memungkinkan kita untuk menjadi begitu dekat dan, di suatu tempat di alam bawah sada, rasa khawatir bahwa suatu hari nanti mereka akan menjauhkan diri kita dalam kehidupannya.

Sayangnya, menyukai seseorang artinya kita akan selalu ingin untuk mengurangi kemampuan mereka bertahan tanpa diri kita, dengan bahasa yang lebih sopan, seseorang akan menggerogoti kebebasan mereka yang dicintai dan membunuh perlahan kebebasan yang sebetulnya mendukung hasrat seseorang. Makanya sering kali kita merasa casual one night stand lebih menarik karena hilangnya perasaan terikat dan terkukung itu.

Hal lain yang juga membunuh kebutuhan seksual kita, rasa takut.

Walaupun terdengar aneh, seringkali ketika mengajak seseorang untuk mencoba variasi dalam berhubungan seksual dengan kita selalu ada resiko orang tersebut akan menolak, “IH GUE GA MAU NGELAKUIN ITU, FREAK!”

Sex is a request. Dan dalam melakukan permintaan kita harus merasa aman tentang penolakan. Pada awalanya kita merasa aman karena walaupun kita tidak tahu pasangan kita, kita adalah makhluk mandiri yang punya rutinitas, pilihan dan ketika seseorang menolak kita, kita bisa pergi dan menwarkan our own kinkyness ke orang lain. Kita berani membuang kebutuhan akan rasa cinta untuk mendukung kebutuhan seksual kita.

Sementara dalam berhubungan, kita merangkai hidup kita dengan hidup orang lain dan mengurangi kemandirian kita. Kita harus meminta mereka membeli sofa yang kita pengen banget walau pasangan kita ngga mau, kita ga mau pergi ke rumah orang tua mereka ketika lebaran dan meminta mereka untuk tidak pergi ke sana, yang kemudian satu permintaan menjadi terasa terlalu banyak dan akhirnya kita memilih untuk tidak memberi tahu mereka apa yang kita inginkan. Seperti hal-hal yang ingin kita lakukan pada mereka dengan cambuk, sepatu hak tinggi atau keinginan kita untuk mereka menggunakan kostum dokter. (HEY! Saya punya preferensi saya sendiri kok)

Kita merasa lelah untuk bernegosiasi dan mungkin kalah oleh pasangan kita yang kemudian semua akan lebih mudah kalau segala macam hal dibiarkan begitu saja.

Yang lucunya salah satu hal yang bisa menjamin seks bisa bangkit lagi adalah pertengkaran yang memancing perpisahan yang kemudian membuat kita mengenal break-up sex, yang membawa dua hal yang kita butuhkan kembali, pertama, bahwa secara teoritis kita dan pasangan bisa pergi dari hidup masing-masing dan yang kedua bahwa ketika kita kembali menjadi mandiri kita akan baik-baik saja tanpa pasangan, tanpa perlu merasa kalah dengan negosiasi tadi.

Good sex need all this. It is built out of a feeling of freedom and of buoyant self-confidence, yang kemudian menjadi langka ketika kita memiliki hubungan yang padahal bisa mengembalikan kita ke hari-hari di mana pasangan kita begitu menggairahkan.