Seperti apa rasanya orgasme? Seperti ketika kamu menekan tombol publish dalam blogmu?

Aku bisa menuliskan prosa – prosa tentang kematian, keimanan, cinta, kamu, nafas, rindu, nisan, nafsu, kamu. Tapi aku tak bisa menuliskan tentang kethu, jadi bagaimana rasanya terantar sampai dipuncak ketika senggama? Seperti bagaimana kepuasan seorang penulis menekan tombol publish dari dasbor blognya? Rasa puas setelah berhasil mewujudkan apa yang ada di kepala ke dalam kata-kata.

Bahkan difusi alkohol dalam beberapa gelas whisky juga tak sanggup memabukkan sepasang manusia jika memang tak ada hasrat yang sama. Kamu yang paling memahami itu. Aku mengandai-andai dalam kepala, jika misalkan aku mengangkangi masa lalu, bersenggama dengan ilusi masa lalu, kemudian meneriakkan namamu dalam orgasme tak berkesudahan, akankah tersambut dengan tamparan kencang lalu jambakan kemarahan yang bertanya, “Siapa itu?”

Dan dalam setengah nafas yang tersisa, aku melenguh menjawab, “siapa kamu?”

Tanpa makna.