Aku mengaduk-aduk latte artku, di ujung kafe ini, kamu memainkan gitarmu, sambil tersenyum merayu.

khayalan ini setinggi-tingginya

seindah indahnya

tempatku memikirkannya

Bagaimana kamu bisa menemukan aku yang tersesat dalam kehampaan adalah sesuatu yang tak pernah bisa kutemukan jawabannya selain karena semesta terlibat dalam kebetulan. Sama seperti bagaimana kamu mau dan mampu membuatku sebagai segalamu.

Tahukah kamu, aku berhenti menikmati kopi hitam tanpa gula sejak kamu menggoda menyebut double-shots-no-sugar di bibirku sebagai hal yang manis. Tahukah kamu aku berhenti menenggak bergelas-gelas kafein, karena sejak bertemu, mimpiku tak lagi menggangu. Karena kamu mimpiku yang sempurna. Tempatku menua. Karena aku tahu, aku tak kan sendiri ketika nanti terjaga.

Kamu menurunkan gitarmu dan kembali ke sampingku, jemarimu menjemput riang, dengan senyumanmu yang mengembang. Bagaimana seorang kamu bisa menyempurnakan aku adalah sesuatu yang tak pernah bisa kutemukan jawabannya selain karena kamu adalah kamu.

coffee-body-dikamarmandiin