Aku pernah kehilangan kamu sekali.
Aku tak ingin kehilangan kamu lagi.

Maka jemariku akan meremas sisa-sisa asa yang bisa kuraih dari waktu yang ada.
Tak kan kupaksakan segala rencana.
Angkasa sudah memperkosaku dengan logika dan merajamku dengan tanya.
Tapi potongan rasa dan kenangan ini yang melindungi,
aku tak lagi merasa sedih terhantam perih,
tak ada lemah yang berbisik “selesai sudah”, yang membiarkanku tanpa arah.
Kamu tetaplah kamu yang tak kan ku rusak dalam ruang imajinasiku.

Semu?

Apa kamu menganggap keberadaanku semu?
Aku menyebutnya, cinta, kamu.
Cinta pada proyeksi kamu dalam kepalaku, cinta pada kamu yang mengecup kepalaku.

Apa kamu ingat, aku pernah menuliskannya, untukmu, sebulan yang lalu.

Mungkin karena bagiku kamu adalah perfect fit, aku tak bisa marah, seperti yang lain. Entah lah, atau mungkin aku yang tidak tahu caranya marah. Atau mungkin karena kata-katamu, empat tahun lalu, “The most important thing is to be happy.” Karena itulah, setiap saat, setiap kali bertemu kamu, setiap sel dalam tubuhku merasa bahagia dan rileks. Dan betapa setiap sel dalam tubuhku akhirnya kecanduan kamu lalu mereka mulai berhenti berfungsi sebagaimana mestinya tanpa kehadiran kamu.

Orang-orang bilang, semakin sering kamu melihat sesuatu semakin kamu tidak peduli, tapi kamu, setiap kali aku bertemu kamu, aku kembali jatuh cinta. Entah kenapa. Mungkin karena bagiku, seperti kutipan dalam Where We Belong, “Even if we no longer have much in common, we would have always had the past, which, in some ways, is just as important as the present, or future. It is where we come from, what makes us who we are.” Mungkin karena itu aku tak pernah sedikitpun merasa marah, selalu dan selalu, aku merasa beruntung diberi kesempatan mengenal kamu nyaris satu dekade ini, aku beruntung bisa jatuh cinta pada kamu.

Lagipula, seperti katamu, “Kamu udah gede tapi masih dusel-dusel kan.” Mungkin karena kebahagiaanku sesederhana bisa nduseli kamu saja, maka aku jadi tidak mengenal emosi marah terhadap kamu, dan juga tidak paham.

Dan aku juga tidak mengerti mengapa mereka bisa berhenti mencintai kamu?