Blog memang bukan untuk semua orang. Tak semua orang sanggup merawat, memiliki hasrat yang besar dan keinginan untuk berbagi melalui blog. Apalagi bila mereka tak merasa bahwa ngeblog itu memberikan manfaat ekonomi.

~ Ndorokakung, 2009.

Kutipan ndorokakung di atas keluar pada tahun 2009 (postingannya udah nggak ada e ndor, tapi nemu cachenya nih), ketika sebuah survei blogger dilakukan oleh perusahaan konsultan kehumasan IndoPacific Edelman dan komunitas blogger Blogfam. Dari survei tersebut ada sebuah hasil yang menggelitik ndorokakung, “rata-rata responden berhenti ngeblog setelah dua tahun”. Saya tersadar, pada tahun 2009 ke-atas adalah masa-masa perpindahan aktivitas dan perilaku blogging Indonesia, dari tulisan panjang, ke micro-blogging platform, atau yang lebih dikenal sebagai social media.

Kemunculan jejaring sosial anyar seperti Facebook, juga micro blogging seperti Plurk dan Twitter, telah memalingkan para blogger dari blognya. Facebook, Twitter, dan Plurk yang sedang meniti gelombang popularitas itu mungkin dianggap lebih gampang dirawat ketimbang blog. Blogger tak perlu berpikir lebih serius seperti ketika membuat posting di blog. Di Facebook, mereka hanya cukup mengubah status, melihat kabar terbaru teman-temannya, atau mengunggah foto.

~ Ndorokakung, 2009

Saya melirik blog saya tahun segitu, pada tahun 2008 ke bawah mungkin saya bisa bikin postingan setiap hari, yang kemudian perlahan bisa 1 postingan 1 bulan saja bikin saya sujud syukur kali ya. Kemudian kemarin, ketika #KumpulBlogger, saya seperti diingatkan kembali oleh bang enda, apa sih esensi ngeblog?

Esensi ngeblog, setidaknya yang diungkapkan oleh bang enda, adalah berbagi dan ber-ekspresi. Berbagi apapun, cerita pengalaman diri sendiri, review buku, curhatan, informasi, dan lain-lain. Menjadi berguna bagi orang lain adalah bonus daripada apa yang kita bagikan. Dan itu (seharusnya) menyenangkan.

Saya lalu mencoba mengingat alasan kenapa saya dulu ngeblog, berbagi sambil masturbasi intelektual. Pada akhirnya, blogging menjadi media narsis dan egosentris seseorang (saya) untuk bisa masturbasi intelektual di depan publik dan membiarkan diri saya dihakimi secara intelejensia dengan apa yang saya tuliskan.

Saya teringat nasehat, masih dari Ndorokakung, pada tahun 2008. Waktu itu Ndoro bercerita ada temannya seorang akademisi yang menanyakan kenapa Ndoro mau ngeblog, toh tidak dibayar dan terkadang menghabiskan uang dan waktu. Temannya tadi merasa enggan menulis jika tanpa bayaran:

Adakalanya kita harus memberi, jangan selalu menerima. Begitu juga dengan ngeblog, apa yang saya miliki dalam hal keilmuan, saya bagikan melalui blog. Anggaplah semua yang kamu tuliskan secara gratis ini adalah bayaran terhadap apa yang telah kamu dapatkan. Blog saya ini juga bisa berupa warisan yang akan saya berikan kepada anak cucu saya.

~ Ndorokakung, 2008 (diambil dari postingannya Nico Wijaya)

Hal ini senada dengan yang sempat disampaikan dalam meetup Social Media Strategist Club bulan ini, bangsa kita adalah bangsa konsumtif. Kita adalah orang-orang yang lebih senang mengkonsumsi daripada membagikan apa yang kita miliki. Padahal, berbagi kan tidak pernah rugi­™

Kalo kamu, masih mau ngeblog?

Saya sih, masih mau.