Hal yang lucu ketika kita membahas cinta adalah kita menggap cinta sebagai satu buah kata saja yang padahal punya dua macam jenis. Mencintai dan dicintai. Harusnya kita memahami bahwa untuk membuat sebuah hubungan berjalan dua hal ini dibutuhkan.

Sayangnya kita hanya mengenal “dicintai”, semenjak kecil, secara normatif, kita sebagai anak selalu merasa orang tua akan secara spontan mencintai anaknya. Selalu melindungi, menghibur atay bahkan merapikan apa yang sudah anaknya kacaukan, orang tua tidak menunjukkan pada anaknya betapa mereka sering harus menggigit lidah mereka untuk tidak memaki anaknya, menahan air mata penderitaan karena sang anak atau juga kelelahan karena jam-jam istirahat yang terus berkurang, tentu saja karena sang anak.

Hubungan orang tua – anak seringnya bukan hubungan yang saling berbalas, orang tua akan mencintai tanpa berharap timbal balik dari sang anak, si ibu tidak akan bete apabila anaknya tidak sadar potongan rambut ibunya baru, dan si ayah tidak akan bete karena anaknya tidak pernah bertanya bagaimana pekerjaan hari ini dan apakah meeting alot kemarin sudah menemukan penyelesaiannya.

Orang tua dan anak adalah sebuah kata cinta yang memiliki perbedaan jenis. Dan kemudian ketika anak menjadi dewasa dan mengatakan menginginkan cinta, yang dimaksudkan adalah, keinginan untuk dicintai tanpa batas sebagaimana semenjak kecil mereka dicintai oleh orang tuanya.

Dan tanpa sadar kita sebagai dewasa mengimajinasikan akan ada orang yang memahami kita, datang dan membawakan apa yang kita butuhkan, dengan tanpa pamrih menanyakan dan memperhatikan kita dan membereskan setiap kali kita melakukan kesalahan dan membuat segalanya menjadi lebih baik.

Yang kemudian menjadi racun dalam hubungan nya sebagai makhluk dewasa.

Karena kita, seharusnya mengajari anak untuk segera mempelajari cinta sebagai orang tua, untuk mendahulukan kebutuhan orang lain sebagaimana dulu orang tua mereka selalu mendahulukan kebutuhan anaknya.