Saya tidak berniat pergi malam ini, setidaknya tumpukan pekerjaan, e-mail briefing, dan beberapa perih di kepala, perut serta dompet membuat saya berniat di kamar, sendirian, sampai besok. Sampai pekerjaan selesai. Seharusnya malam ini saya memenuhi janji ber-Skype dengan seseorang, yang kemudian orang tersebut malah tidak muncul, shitty internet connection, dan kantuk yang juga tidak datang walaupun ini hari ke enam saya belum tidur properly.

It was impulsive decision, almost midnight when I started my bike. Saya berjalan ke tempat tidak seharusnya, tempat baru saya untuk lari dari kenyataan sampai pagi di Jakarta. My new sanctuary.

And there was him, playing his guitar. Bukan orang yang diekspektasikan dan semua pertemuan kita selama ini adalah tanpa direncanakan bahkan penuh pertanyaan, “Lho kok kamu ada di sini?”. Kita saling pandang cuma buat memberi kode bahwa saya ingin bicara. Walaupun gak tahu apa.

You were right!was my first words to himHe smiled and listened to meI catching him up with my so-not-important-updates of my life. He give his advice, as always, calm and direct. Mengingatkan saya untuk tetap tenang dan bertahan tidak impulsif, one of my weaknesses.

“Saya akan ke Nepal, November ini.”

Saya tersedak asap rokok yang baru saya hisap dalam-dalam. “What?? Why?? How?

“B juga, bahkan bapak juga.” Dia melanjutkan, and I literally scream “WHAT!”

Dan dimulailah pembicaraan itu. Perjalanan impulsif. “Panggilan” katanya.

I wasn’t plan to go here too, but here I am, here you are. Semua itu ada ‘panggilan’ nya, Chor. Dan kamu harus menghadapi itu, semakin kamu lari, semakin kamu dikejar. Semakin kamu dekati, semakin kamu dihantam.

See the way your world now revolves around her? Semesta mengajak kamu bicara saat ini.”

I feel like shit, I don’t get this spiritualist thing-y, saya paling tidak bisa menerima apa yang tidak bisa dijelaskan secara logika.

I know eventually everything will connects and you can read the dots, but I never get the how, the believable story. I couldn’t accept this, you.

Then welcome to life, Chor. Life is fucked up as it is, and now life is fucking you. Saya juga mempelajari science dan logika, tapi hal-hal ini memang shit, Chor. Spiritualis itu cuma label, pada kita yang pada akhirnya memilih berjalan dengan semesta dan mempertanyakan alasan kenapa kita ada di dunia.

Saya percaya, kita semua akan mencapai di satu titik di mana kita akan memepertanyakan dirinya dan segala apa yang terjadi dalam kehidupannya. Dan mungkin ini titik kamu.”

Oh life, it’s bigger, it’s bigger than youSayup-sayup terdengar akustik Losing My Religion, just to complete this absurd conversation.

Perjalanan saya selalu impulsif, I go whenever I feel I want to go. Gak tau ke mana, gak tau buat apa. Dan mungkin saja perjalanan perjalanan yang “katanya” sudah direncanakan semesta, untuk membuka peta-peta baru menuju tentang siapa kita sesungguhnya. Saya menatap cangkir-cangkir teh yang kosong dan asbak yang penuh dengan sisa-sisa rokok kami.

What are you thinking right now?” saya mengejutkannya setelah kita saling diam menatap meja.

The reason I live.

Saya menatap wajahnya dalam-dalam. “Sorry, I need to go now. Bye.

Then he left, just like that.

Saya tertegun, merasa ini garis ‘mulai’ yang sedang saya lewati. The unexplainable. Perjalanan, yang tampaknya, harus saya catat pelan-pelan dalam ingatan saya.