#piknikajadulu: Candi Situ Cangkuang (part 2)

Dasar saya luar biasa pemalas, akhirnya berhasil juga menyelesaikan tulisan lanjutan jalan-jalan ke Garut kemarin setelah nyaris 2 bulan. Huft.

Anyway, bagi saya, dalam perjalanan menuju Cangkuang, saya seperti orang kota yang udah lama gak liat desa. Amazed sama pemandangan menuju Cangkuang, masih asri, udara masih sejuk, dan yang paling emejing, saya udah lama gak liat gunung di Jakarta. Jadi kangen banget sama Jogja.

piknikduluaja cangkuang 1Jujur saya ga tau ini gunung apa (ternyata adalah Gunung Slamet) tapi menyenangkan lihatnya. Hiburan lah yaaa.

Bermodal gps dan melewati jalanan yang lumayan berliku, akhirnya kita sampai di Situ Cangkuang jam 8 pagi. Agak sepi.

piknikduluaja cangkuang 2

Ternyata candi Cangkuang itu letaknya di tengah danau, untuk ke sana butuh naik rakit dari pintu masuk yang di Garut. Tarif rakitnya sendiri murah, satu orang cuma 4ribu, tapi harus nunggu 20 orang dulu. Kalau misalnya mau nyarter rakitnya sendiri, harus bayar 80ribu rupiah walaupun belum 20 orang. Karena agak sepi kita nungguin rombongan lain yang kali aja mau ikutan nyebrang, untungnya dapet sih, ada rombongan ber-enam yang juga mau nyebrang.

piknikduluaja cangkuang 5

Perjalanan di rakitnya ga terlalu lama, dan bisa jadi modus foto pre-wedd gitu lah. (udah, iyain aja.)

piknikduluaja cangkuang 6

Masuk ke pulau, kita disambut dengan tukang es kelapa muda dan toko-toko ekonomi kerakyatan (halah, bahasamu chor). Disambut dengan tulisan Selamat Datang di Kp. Pulo, kita berjalan ke pintu kompleks candi Situ Cangkuang.

Kenapa kompleks? Karena kita juga akan melewati kampung adat Kp. Pulo dulu yang juga dijadikan cagar budaya Garut. Sayangnya tidak terlihat tanda-tanda kehidupan di kampung adat yang hanya ada 6 rumah itu, iya, cuma enam rumah. Lucu loh, karena cuma boleh ada 6 kepala keluarga di kampung itu, kalau ada yang menikah, mereka harus ke luar dari kampung Pulo dan boleh kembali jika dan hanya jika ada salah satu keluarga yang meninggal, dan itupun hanya hak dari anak wanita saja melalui pemilihan warga.

piknikduluaja cangkuang 7

Candi Cangkuang bukan candi sebesar Candi Prambanan, kecil aja. Uniknya, Candi Cangkuang adalah satu-satunya candi hindu dalam bumi Pasundan, mengingat bumi Pasundan banyak dikuasai dengan kerajaan Islam. Terlihat dari adanya arca Shiwa dan juga arsitektur candi ini. Yang lebih unik lagi, persis di sebelah candi Cangkuang ini, ada sebuah makam Islam.

Di sini terasa banget betapa besar toleransi beragama dan juga kekentalan budaya yang masih kuat sampai di jaman sekarang ini. piknikduluaja cangkuang 8

Anyway view dari ujung Kp. Pulo ke arah Garut ini asyik, soalnya jarang-jarang (sayanya) bisa nyebrangin danau gitu. Norak-norak dikit lah.

Oh iya, untuk makan jangan khawatir, persis di parkiran mau ke candi Situ Cangkuang ini ada Rumah Makan Sari Cobek Cangkuang, yang khas dari rumah makan ini adalah gurame cobeknya, endeus bingitz kalo kata anak kekinian mah.

piknikduluaja cangkuang 9

Dari sini kita masih juga googling mau melanjutkan perjalanan ke mana, akhirnya memilih mau ke Kampung Naga. Seperti biasa, perjalanan di Kampung Naga nanti ada di postingan selanjutnya. (kemudian kabur dengan seenaknya)

choro

Sudah mau tiga puluh tapi tetap lucu kinyis-kinyis. Kinyis-kinyisnya sudah mutlak, lucunya masih dalam tahap diusahakan.

5 thoughts on “#piknikajadulu: Candi Situ Cangkuang (part 2)

Leave a Reply