Masuk ke Kampung Naga, kita harus ditemani oleh orang lokal karena Kampung Naga masih memiliki tempat-tempat terlarang untuk dimasuki oleh orang, ataupun difoto.

Kampung Naga sendiri berasal dari bahasa sunda, kampung na gawir. Gawir sendiri artinya bawah tebing. Nah, Kampung Naga ini letaknya ada di bawah tebing, dan harus menuruni 439 anak tangga dulu.

Kemeng gak luh!

#piknikajadulu kampung nagaItu yang di foto, baru lumbung-lumbung untuk sawah, Kampungnya sendiri masih harus turun lagi ke bawah. Sebelum masuk juga akan melewati “hutan terlarang” gitu, widiiiihhhh.. Langsung dong kita penasaran kenapa hutan itu terlarang, apakah ada penunggunya atau semacam itu. Ternyata yah, hutan tersebut terlarang untuk dimasuki karena untuk menjaga agar tidak diambili kayunya. Iya, masyarakat Kampung Naga itu masih menggunakan kayu bakar sebagai alat masak mereka, tapi tidak berarti semua kayu boleh diambili kayunya.

#piknikajadulu kampung naga 2

Rumah masyarakat Kampung Naga punya arsitektur yang khas, salah satunya pintunya. Tiap rumah Kampung Naga harus memiliki 2 pintu, yang satu pintu ruang tamu (kiri) yang satunya adalah pintu dapur (kanan). Dalam filosofi nenek moyang jaman dulu, rejeki itu dipercaya datang dari pintu depan dan ke luar ke pintu belakang. Nah, alasan kenapa dua pintu ini ada di depan karena nenek moyangnya Kampung Naga percaya supaya rejeki tidak ada keluar dari rumah. Gile, nenek moyang jaman dulu emang yoih abis.

Rumah mereka hanya berisi kamar tidur, ruang tamu, dapur dan ruang keluarga. Kamar mandi semua letaknya di luar. Beberapa rumah memiliki goa atau lumbung, yang uniknya lumbung ini hanya boleh dimasuki yang punya rumah, itupun harus wanita. Lumbung umum ada di atas Kampung, di sana masyarakat menyumbangkan padinya dan padi tersebut hanya boleh digunakan pada upacara adat saja, atau ketika musim paceklik.

Di ruang tamu rumah adat Kampung Naga tuh gak ada kursi, biar gak ada perasaan di atas dan di bawah gitu. Yang khas lagi, atap rumah di Kampung Naga ini menggunakan ijuk yang mampu bertahan 25-40 tahun. Dan jika terjadi kebocoran seluruh atap langsung ganti ijuk. Ijuk yang sudah ga dipake ini dibakar di tempat khusus supaya nggak melukai warga. Udah gak jaman pedih tertancap duri mawar, sekarang mah pedih tertancap ijuk. (tolong, abaikan)

#piknikajadulu kampung naga 3

Saya sudah cerita belum kalo di kampung naga ngga ada listrik? Dulu memang ada tawaran agar listrik masuk ke kampung naga, tapi tidak diterima karena semua rumah di kampung naga menggunakan bahan yang mudah terbakar (bambu, ijuk, kayu) Listrik bisa menyebabkan konslet, dan salah salah satu kampung malah terbakar semua. Tapi masyarakat Kampung Naga punya akses ke televisi yang dinyalakan dengan cara stroom accu, yah, walaupun tivinya masih hitam putih.

#piknikajadulu kampung naga 4

Selain rumah kita juga diajak melihat pengrajin Karinding, alat musik ini udah lama banget katanya, 500 tahunan ada kali. Selain sebagai alat musik, Karinding bersama Celempung dan Seruling digunakan sebagai pertunjukan / ritual syarat sebelum menanam padi, biar nggak terkena hama. Saat gerhana bulan juga, supaya gerhana tersebut cepat selesai dan cahaya bulan menerangi Kampung Naga lagi.

Pengrajin Karinding di Kampung Naga cuma 1 ini, namanya Abah. Kalaupun ada lagi, katanya kemungkinan tinggal di Sumedang, bukan di Kampung Naga. Abah cerita juga kalau membuat Karinding ini lumayan lama, 5 bulan baru untuk merendam dan 3 tahun untuk diasapi. Ukuran Karinding juga semua diukur sama, buku-bukunya terpisah tiga jari dan dua jari. Pasti pendukung Jok-*diinjek yang baca blog*

Tadi saya bilang ada tempat yang ga bisa dimasuki dan difoto kan? Namanya Bumi Ageng. Bumi Ageng adalah tempat para sesepuh melakukan upacara adat, makanya tidak semua orang bisa masuk ke Bumi Ageng ini. Mereka sangat percaya pada pamali dan larangan adat, bagi masyarakat Kampung Naga, kata “pamali” itu tidak bisa ditawar, semua pamali dipercaya memiliki prinsip “wasiat-amanat-akibat”. Apabila wasiat dan amanat dilanggar, pasti ada akibatnya. Segala sesuatu yang datangnya bukan dari ajaran karuhun Kampung Naga, dan sesuatu yang tidak dilakukan karuhunnya dianggap sesuatu yang tabu. Apabila hal-hal tersebut dilakukan oleh masyarakat Kampung Naga berarti melanggar adat, tidak menghormati karuhun, hal ini pasti akan menimbulkan malapetaka.

Begitulah Kampung Naga dan juga kekentalan budayanya. Kalian bisa sebetulnya tinggal dan menginap di Kampung Naga, akan tetapi gak bisa mak benduduk gitu, harus datang untuk meminta ijin dulu, kemudian apabila punduh atau lembaga adat memberikan ijin, barulah boleh tinggal di salah satu rumah warga yang sudah ditunjuk gitu.

Setelah dari Kampung Naga, kita bermalam dulu, soalnya lumayan capek naik ratusan anak tangga di Cangkuang dan Kampung Naga ini. Cerita besok, kita menyusuri Sukaregang, daerah yang terkenal dengan kerajinan kulit-nya Garut gitu sebelum akhirnya kembali ke Jakarta.