Dua hari terakhir, di tengah-tengah belajar Neural Networks for Machine Learning, saya bertemu tiga topik ini dalam waktu yang bersamaan. Tentang reputasi, berbagi, dan komitmen. Orang yang saya kagumi, Seth Godin, berkata bahwa reputasi, berbagi dan komitmen adalah pilihan kita, konsekwensi dari apa-apa yang kita pilih.

Screenshot_2014-05-22-16-34-39-1Seorang teman kemudian mengajak membahas masalah reputasi, ada orang-orang yang berusaha keras membuat reputasi tanpa ingat untuk berkomitmen menjaga reputasi tersebut. Padahal pada akhirnya orang lain akan mampu melihat kualitas reputasi seseorang justru dari apa yang dia selama ini bagikan dan lakukan, bukan hanya sebatas apa yang dia perlihatkan di awal. Kami menyebutkan contoh beberapa orang yang ternyata kualitasnya tidak sesuai dengan apa yang selama ini dia obralkan ke orang lain. Justru malah membuat reputasinya tercoreng dan menjadi diremehkan karena seseorang tidak mampu berkomitmen dengan apa yang dia coba jual.

Komitmen. Iya, komitmen, hal yang paling sulit dilakukan kata seorang teman saya yang berkerja di bidang komunikasi dan pemasaran. Sejujurnya saya tidak paham dengan apa yang sulit dari menjaga sebuah komitmen, mungkin karena saya orang akuntansi, orang data. Komitmen saya adalah komitmen terstruktur. Walaupun saya tidak tahu juga apakah hal ini ada hubungannya atau tidak. Tapi rasanya lucu, ketika seluruh buku teori pemasaran selalu mengajarkan dan mengingatkan bahwa komitmen adalah kunci untuk melakukan konten, kolaborasi, dan engagement pada calon-calon konsumen, seorang yang bergerak di bidang pemasaran justru malah ogah-ogahan menjaga komitmen.

Malam saya habiskan bersama orang-orang luar biasa, yang berkomitmen dengan berbagi, kami membahas masalah konten, kolaborasi, dan komitmen ini sampai jam setengah tiga pagi. Reputasi yang akan kita bangun, baik komunitas, brand, pencitraan, atau apapun, harus dimulai dari concern. Apa yang kita ingin garis bawahi? Instant follower tanpa engagement untuk menjual angka? Atau maintenance jangka panjang yang bisa membuat konsumen kembali membeli produk ataupun jasa kita?

Dari concern tersebut, kita bisa menarik cara-cara untuk mengesekusinya dengan baik. Dan semua butuh proses. Untuk mencari follower instan misalnya, butuh proses untuk terus-menerus membuat kontroversi. Oke, ini bukan contoh yang baik, tapi jangan pernah berpikir bahwa reputasi apapun yang dibangun (baik atau buruk) tidak melalui proses yang lama, karena selalu butuh waktu untuk menyebarkan reputasi sesuatu.

Proses penyebaran ini dilakukan dengan berbagi, apalagi di era digital di mana semua orang saling menyebarkan dan membagikan banyak informasi dan hal baru. Jika kita mampu mengkolaborasikan dan masuk ke dalam era berbagi dengan baik, maka reputasi kita secara cepat juga akan dikenal oleh banyak orang. Kemudian adalah komitmen dari kita untuk menjaga reputasi ini supaya bertahan lebih lama, ya kecuali kalau reputasi yang diharapkan hanya sekedar nice to have saja tanpa perlu pengembangan lagi.

Menurut saya, ini semua teori dasar pemasaran banget, dan semua terkunci kuat pada kata komitmen. Benar kata seorang teman yang saya baca pagi ini, “A simple man believes everything. But prudent man gives thought to his steps.” Semoga kita semua mampu berkomitmen pada apa-apa yang sudah kita pahami teorinya.

NB: Feature image diambil dari postingan Seth Godin yang ini.