*Note: Review ini ditulis oleh seorang kutu buku, bukan pencinta pendakian.

Everest

There is competition between us and the mountain, and the last word always belongs to the mountain.

Nyaris semua pendaki ingin mencicipi puncak Everest, gunung tertinggi di Bumi. The most impossible one. Gunung yang baru bisa ditaklukkan dengan selamat pada tahun 1953, setelah ekspedisi ke-sembilan oleh Edmun Hillary dan Tenzing Norgay. Everest punya misterinya sendiri, dengan tingkat oksigen yang tipis di puncak sana, extreme cold dan reruntuhan es tidak bisa membuat Everset sebagai ajang main-main. Hingga tahun 2006, setidaknya ada 150 jenazah pendaki yang belum diketahui dan tidak mengherankan untuk melihat mumi dan mayat di rute-rute pendakian biasa di Everest.

Saya ingat sekitar lima belas tahun lalu, saya diberikan sebuah buku berjudul Into Thin Air dari Jon Krakauer, jurnalis yang menjadi saksi hidup 1996 Everest Disaster. Dalam sejarah pendakian Everest, tahun 1996 merupakan bencana terburuk ketiga karena badai salju setelah gempa Nepal pada tahun 2015 dan salju longsor di tahun 2014.

Pada tahun 1996 ini, Tuhan bermain dengan ego manusia, ego di mana mereka semua ingin mendaki gunung Everest, dan ego yang membuat mereka tidak mampu turun dengan selamat. Ego ekspedisi-ekspedisi amatir yang meroket karena yang merasa dapat menaklukkan Everest dengan membawa klien-klien lebih banyak dan membuat Everest lebih ramai daripada jalan Sudirman. Tuhan mempermainkan mereka dengan badai salju yang parah dan sedikit longsoran es.

Jon Krakauer: So, tell me, why you guys want to climb Everest?

Climbers: Because it’s there!

Dalam film Everest, Kormákur berusaha keras mengenalkan berbagai tokoh pendaki yang mungkin terlalu banyak dan malah membuat penonton kebingungan karena semua terlihat sama dengan jaket tebal dan kacamata anti salju mereka. Berbeda dengan The Deep, di mana one guy trying to make it against the odds, Everest adalah cerita beberapa orang yang bertemu dengan orang-orang baru dalam pendakian ini, membawa masalah hidupnya sendiri dan digoncangkan oleh kegagahan Everest. Dari tukang pos yang berusaha membanggakan anak-anak sekolah dasar di kampungnya dengan mendaki Everest, wanita yang sudah mendaki 6 dari 7 puncak tertinggi di dunia dan perlu menamatkan kisah petualangannya di Everest, atau orang kaya Texas yang berada di puncak pernikahannya, atau malah sang pemimpin ekspedisi yang meninggalkan istrinya yang tengah hamil besar.

Kormákur tentu saja punya tugas yang berat, memanusiakan Everest dan juga tokoh pendaki super banyak dalam film ini, satu hal yang saya rasa memuaskan dalam film ini adalah bagaimana Kormákur tidak menjadikan satu pihak sebagai tokoh antagonis dalam film ini. Secara teori, film ini seharusnya intense dengan drama di mana manusia berusaha menaklukkan alam, namun Everest bukan film drama dengan akting yang luar biasa meyakinkan, Everest adalah film tentang tragedi, jika Anda tidak bisa menikmati bencana alam, tanpa ada tendensi dramatisasi cerita, makan Everest akan terasa membosankan dan datar.

Jika Anda tertarik dengan kejadian Everest 1996 dan ingin melihat dari perspektif lain, saya juga merekomendasikan dokumenter Storm over Everest ini:


 

Synopsis: Two different expeditions to the top of the largest mountain on Earth will be challenged beyond their limits by one of the fiercest snowstorms ever encountered by mankind. Their mettle tested by the harshest of elements found on the planet, the climbers will face nearly impossible obstacles as a lifelong obsession becomes a breathtaking struggle for survival.

Director: Baltasar Kormákur

Writer: William Nicholson, Simon Beaufoy

Cast:

  • Jason Clarke as Rob Hall
  • Jake Gyllenhaal as Scott Fischer
  • Josh Brolin as Beck Weathers
  • John Hawkes as Doug Hansen
  • Sam Worthington as Guy Cotter
  • Robin Wright as Peach
  • Michael Kelly as Jon Krakauer
  • Keira Knightley as Jan Arnold
  • Emily Watson as Helen Wilton
  • Thomas Wright as Michael Groom
  • Martin Henderson as Andy Harris
  • Elizabeth Debicki as Dr. Caroline Mackenzie
  • Naoko Mori as Yasuko Namba
  • Clive Standen as Ed Viesturs
  • Vanessa Kirby as Sandy Hill
  • Tom Goodman-Hill as Neal Beidleman
  • Ingvar Eggert Sigurðsson as Anatoli Boukreev
  • Charlotte Bøving as Lene Gammelgaard
  • Micah Hauptman as David Breashears
  • Chris Reilly as Klev Schoening
  • Chike Chan as Makalu Gau
  • Vijay Lama as Lt Col Madan KC
  • Mark Derwin as Lou Kasischke
  • Mia Goth as Meg

Rottentomatoes Score: 73%

Metacritic Score: 64/100

After Credits Scene?: No