Review: Godzilla (2014)

Godzilla (2014) diawali dengan potongan Godzilla (1954) original milik sutradara Ishiro Honda, awal yang cukup baik buat saya. Kemudian dipancing dengan kejadian tidak diinginkan pada tahun 1999, gempa yang mengguncang pabrik nuklir yang kemudian dengan dramatis dan tegang ditutup dengan pengorbanan seorang ilmuwan, Joe Brody, yang terlambat menyelamatkan istrinya. That’s a quite good opening.

Kejadian 1999 berlalu begitu saja menyisakan perasaan drama berlebihan, dan empat puluh menit setelahnya film ini terasa datar begitu saja. Alur maju mundur penemuan fosil dari 15 tahun lalu, hubungan Joe Brody dengan putranya, Fort Brody. Juga kemunculan Massive Unidentified Terrestrial Organism (MUTO) tanpa ada kemunculan Godzilla. Maaaaaaan, rasanya langsung ngedrop. Rasanya seperti melalui adegan-adegan yang tidak diperlukan hingga akhirnya kemunculan perdana Godzilla.

Secara overall, saya bertanya-tanya why bother calling this movie as Godzilla? Konsentrasi besar film ini ada pada He-MUTO dan She-MUTO yang sebetulanya sejoli yang terpisahkan LDR dan butuh bertemu karena She-MUTO menuntut dinikahi. Sementara Godzilla adalah abang-abang jomblo yang terlalu lama sendiri dan kesepian lalu cemburu. Yaelah, godz, saya aja jomblo ga segitunya. (abaikan komentar ini, saya terlalu bosan)

Secara plot, menurut saya, semua serba nanggung. Agak gengges lihat banyak karakter yang tidak dibutuhkan dan subplot yang bertele-tele. Terlalu banyak berfokus pada hubungan karakter, tapi kurang tergali dalam. Saya sempat berpikir akan lebih banyak mencoba menggali teori apa yang selama ini Joe Brody sempat kerjakan, tapi flashback teori tersebut tidak tersentuh bahkan hanya terasa seperti supplementary information yang tidak dibutuhkan.

Hanya saja, yang menyenangkan dari adaptasi Godzilla terbaru ini adalah idea-nya lebih mendekati ke Godzilla original jika dibandingkan dengan adaptasi Godzilla (1998). Sedari awal Godzilla memang bukan monster jahat, cuma kebetulan berbadan besar dan punya anger issue. Hal yang sangat bisa dinikmati juga adalah adegan action yang ada di film ini, baik dari adegan berantem Godzilla hingga adegan pesawat jatuh atau He-MUTO dan She-MUTO keluar. Bisa jadi karena saya nonton Godzilla (2014) di IMAX. Tapi memang kurang lepas, Godzilla supposed to be a terror, menurut ngana kenapa Godzilla sangat iconic?

Pada akhir kata, Godzilla (2014) bisa ditonton, adegan battle yang keren tapi tidak seperti apa yang akan diharapkan bagi pecinta film monster. Jangan dibandingkan dengan Pacific Rim atau Cloverfield yang memang berfokus pada chaos, Godzilla (2014) mengambil tema Man vs Nature, jadi ada banyak “makna” dan “hikmah” yang bisa diambil seperti kebanyakan film drama lain.

Rate: 3 of 5

choro

Sudah mau tiga puluh tapi tetap lucu kinyis-kinyis. Kinyis-kinyisnya sudah mutlak, lucunya masih dalam tahap diusahakan.

5 thoughts on “Review: Godzilla (2014)

  • May 16, 2014 at 10:42
    Permalink

    Karakter godzilla ne lucu gak sih.. Mukanya chubby menggemaskan. Cb itu musik latarnya diubah lagu ceria, gak mengerikan jdnya.

    Lebih ngeri si muto ne..walaupun kepala dan punggungnya kaya mirip monster di *lupa judulbfilmnya*

    Reply
  • May 16, 2014 at 16:46
    Permalink

    Godzilla anak yang baik. Muto mirip monster/alien di Starship Trooper. Muto aja sudah pernah ciuman. kamu pernah enggak?

    Reply
  • May 19, 2014 at 03:33
    Permalink

    duh.. sampai keluar ruangan pun di kupingku masih terngiang “DROWEEEEEEENNNGGGG…. DROWEEEEEENNGGG….” khas Hans Zimmer. aku sempet ketiduran di awal film. kayaknya memang itu film buat nontonin godzilla kelahi ama kecoa aja. manusianya gak berguna. lagian bukannya MUTO itu harusnya tetep dilestarikan ya? kan dia makan radiasi nuklir yang bisa membahayakan manusia.

    Reply

Leave a Reply