Masih ada harapan di Jakarta.

Ada banyak film dokumenter Indonesia yang pernah saya tonton dan membuat saya trauma, salah satunya “The Black Road” (2005) – tentang gerakan separatisme GAM di Aceh, yang sukses bikin saya nangis karena, saya pernah ada di sana dan merasakan ketakutan itu, lalu yang kedua adalah “Sex, Lies, and Cigarettes” (2010) tentang keberadaan rokok di Indonesia, kemudian “The Act of Killing” (2012) – tentang pembunuhan massal anti komunis. Masih banyak lagi list film dokumenter Indonesia yang bertema negatif, dan membuat saya mual karena… Man, Indonesia isinya jahat.

Begitu mendengar Jalanan, dengan pesan, “A film about Indonesia, street music, love, prison, politics, sex, corruption, rice fields, globalization and heartache!” boleh dong saya juga menganggap film ini bakal membawa aura negatif ke saya? Yaya, saya paham, ini kesimpulan yang naif, maka saya sengaja menunda-nunda atau at least cari temen buat nonton Jalanan, minimal kalo saya trauma, saya gak sendirian.

Karena gosip film Jalanan akan turun dari bioskop, akhirnya saya bersama teman-teman @NontonJKT komunitas pecinta nonton, akhirnya memilih menunaikan ibadah ke bioskop hari Rabu kemarin. And so we did.

Jalanan dimulai dengan nyanyian seorang pengamen, Boni.

Bapak-bapak sakit kepala

ibu-ibu mengelus dada

harga sembako melambung tinggi

begitulah nasib negara kami

(berhubung menggunakan ingatan, semoga ngga salah)

Jalanan bercerita tentang kehidupan pengamen Jakarta, curahan hati berapa penghasilan mereka sebulan, bagaimana mereka bertahan hidup, di mana mereka tinggal, keseharian mereka. Juga menceritakan Jakarta, kota dengan gemerlapnya yang sepi. Kita melihat Jakarta dari mata mereka.

Orang-orang yang melihat dari atas itu melihat jembatan, tapi dari kolong, seperti bukit-bukit. Kolong ini tempat persinggahan. Persinggahan anak-anak kota.

Tiga pengamen Jakarta dengan karakternya yang berbeda diceritakan secara… bagaimana saya harus menyebutnya, inspiratif, di Jalanan. Diawali dengan memperkenalkan tiga orang tokoh utama, Boni yang selo, tabah, positif, cuek, nyante hidup di bawah kolong jembatan bersama istrinya terlihat menyenangkan memperlihatkan Jakarta. Memperlihatkan ironi manusia dengan analogi kotoran dalam toilet Plaza Indonesia, “di toilet ini, ada tainya orang kaya, tainya orang miskin, jadi satu. Di sini tainya mau gabung, tapi orangnya nggak.”

Dan saya tertohok.

Fragmen Jakarta yang ditawarkan Boni adalah fragmen kebahagiaan dalam kesederhanaan. Saya suka. Jakarta terlihat begitu lembut sementara dari mata dia.

Kemudian beralih ke Titi, seorang ibu beranak tiga yang akhirnya merasakan perceraian dari suami bangke yang memilih menghabiskan uang dengan rokok, ayam dan makanan ikan, kemudian kesepian, tapi masih bersemangat mengenyam pendidikan. “Dulu saya pernah merasa iri, kenapa teman-teman saya bisa sekolah, bisa punya ijazah, bisa punya pekerjaan mapan. Tapi saya harus membuktikan kepada bapak ibu saya, bahwa saya juga bisa.”

Again, saya tertohok.

Titi adalah fragmen motivasi. Semangat. Di saat, ketika kita mampu untuk sekolah, kita malah memilih untuk mengabaikan kesempatan pendidikan itu. Sebuah pengingat penting bahwa bermalas-malasan itu bukan karena keadaan, tapi ketidak-mampuan kita sendiri untuk punya tujuan. (alah lambemu chor, chor)

Dan Ho, seorang cowok gimbal berhati Rinto yang sepanjang film curhat mengenai masalah romansanya yang ngenes. “Hidup itu jangan dimatikan, semboyan hidup itu cuma satu. Cinta. Cintai hidup lo, jangan sampe lo mencintai dia padahal dia ga cinta lo. Gue pernah tuh kayak gitu, gue cinta banget sama orang sampe ga mencintai diri gue sendiri. Yang ada gue bertanya-tanya, kok jadi gini ya. Pas gue ditinggal, gue konslet sendiri.” FAK ANJENG NGEHE BANGET INI KUTIPAN sdjasghdjgasgdjasjd *CHORO! FOKUS!*

– batas akhir curcol –

Fragmen Jakarta di seputaran Ho lebih banyak mengenai cinta, romansa dan seks. Cinta yang jujur dan sederhana. Banyak kalimat dia yang lucu dan witty. Dan membuat saya bertanya-tanya, bagaimana bisa cinta yang sederhana itu didapatkan lebih mudah dari mereka yang merasakan hidup lebih keras daripada kita yang hidup lebih nyaman?

Kalo lagi galau sebaiknya emang banyak-banyak mengingat kalimat dia misalnya, “Cinta itu nafsu. Ujung-ujungnya meking lop, sayang itu cuma perangsang mesra. My honey my darling asu celeng.” *chor, sudah chor*

– batas akhir curcol- – lagi –

Walau diawali dengan membosankan, setidaknya bagi saya, Daniel Ziv berhasil mengantarkan kita pada akhir cerita dengan menyenangkan. Bagaimana melihat Titi mendapat ijazah, Ho menikah, dan Boni yang diusir oleh pemda dari kolong jembatan mewahnya. Kolong jembatan di mana dia merasa damai dengan mendengarkan irama mobil-mobil di jalanan.

It was a fun ride, a slow starter but definitely inspirational. Maka adalah wajar ketika Jalanan memenangkan “Best Documentary” di Busan International Film Festival.

Saya merasa bahagia setidaknya 21cineplex dan blitzmegaplex mau memberikan kesempatan untuk menayangkan Jalanan. Saya paham, dalam konteks bisnis dan target market, film dokumenter sulit sekali menjadi raupan keuntungan, apalagi di musim rilis film-film box office. But please, please, please, try to watch this movie! Saya keluar dari bioskop dengan tiga perasaan; hangat, bahagia dan malu.

Malu bahwa saya kurang bersyukur. Malu bahwa saya sering lupa bahwa bahagia itu sederhana. Malu bahwa saya cengeng.

“Jalanan” bukan memaparkan kesedihan, ini bukan tipikal film yang meminta-minta belas kasihan simpatik penonton, ini film yang… menyenangkan.

Terimakasih Daniel Ziv, atas waktunya selama enam tahun merekam Boni, Titi dan Ho. Terimakasih sudah membuat saya jatuh cinta kepada mereka.

Numpang narsis ya :D

Numpang narsis ya :D

Oiya, bagi teman-teman yang ingin NOBAR alias nonton bareng film Jalanan dan bisa membawa 10 orang (lebih banyak lebih baik) teman, atau rekan kerja atau genk hore-hore lainnya, bisa mendapatkan merchandise JALANAN gratis & (mungkin) foto-foto bareng ‘bintang’ utama JALANAN Boni, Ho & Titi langsung di sinema. Hooh.

Silahkan juga teman-teman cek link di bawah ini untuk lebih jelas mengenai Jalanan:

Trailer JALANAN

Situs JALANAN

Facebook JALANAN

JALANAN on Twitter:  (@JalananMovie)

JALANAN on Instagram