placebo--dikamarmandiin

Placebo adalah band veteran yang booming dengan Every You Every Me yang menjadi soundtrack Cruel Intentions. Sebagai penyuka heavy rock, beberapa lagu Placebo jelas ada di playlist saya. They were sweet, sour, and bitter. They were good!

Placebo always managed to have at least 3-4 insanely catchy tunes per album, itu yang bikin saya setia punya album mereka. Tapi tidak dengan album terbaru mereka, Loud Like Love.

Dalam interview mereka di Pure Volume, mereka menegaskan bahwa Loud Like Love memang fresh start bagi mereka. Dan seperti inilah mereka ingin bersuara ke depannya. Dibandingkan album-album sebelumnya, Placebo memang terdengar lebih dewasa di Loud Like Love, they are no longer the cross-dressing boys singing about drug struggles and broken hearts. Well, lirik mereka masih setengah melankolis seperti biasa, tapi juga terdengar sederhana dan tak lagi multi interpretasi and puzzling seperti Placebo sebelumnya. Ditambah pula beberapa tracks di Loud Like Love punya tunes yang… forgettable. Banyak beberapa lagu mereka di album ini terdengar seperti lagu top 40. Not in bad way, hanya saja sebagai orang yang mengikuti Placebo semenjak 20 tahun lalu, album ini terdengar sangat… mainstream.

Too Many Friends, single pertama mereka yang rilis pertengahan tahun lalu, masih memainkan blurred sexuality and androgyny line dengan kalimat pembuka “My computer thinks I’m gay..“. I was like… Okay. Mungkin memang Placebo menarget fans baru dan remaja yang lebih muda daripada fansnya yang mungkin sudah bertambah usia dibandingkan… 20 tahun lalu. (Dang! Suddenly I feel that old!)

A modern version of, ‘I’m sitting by the phone, waiting for you to call,’ a bitter loneliness in the age of social media, indeed. Album ini sebenarnya sangat catchy, tapi saya kehilangan the ‘Placebo feel’ yang biasa saya dapat dari lagu-lagu lama mereka. Setidaknya setelah ini Placebo hanya masuk hingga folder Summer Playlist saja.