Pertama-tama biarkan saya meminta maaf karena saya memiliki father complex dan juga penggemar sci-fi sehingga review ini akan sangat bias dan mungkin ber-spoiler. Oh tenang, saya tidak berusaha keras untuk tidak memberi spoiler karena, GO WATCH IT YOU DAMMIT. THIS MOVIE IS AH-MAH-ZING!!!

With our time on Earth coming to an end, a team of explorers undertakes the most important mission in human history; traveling beyond this galaxy to discover whether mankind has a future among the stars.

Menonton nyaris tiga jam, pergi ke toilet merupakan sebuah kewajiban. Tapi entah kenapa saya merasa tidak ada yang bergerak ketika menonton film ini. Interstellar memiliki alur fast-paced tanpa perlu memiliki kemampuan teori fisika ataupun rocket scientist untuk bisa memahami isi cerita Interstellar. Percayalah, saya anak sosial.

Kenyataan mengenai teori relativitas ruang dan waktu banyak membuka mata saya setelah ke luar dari bioskop. Kenyataan kejam bahwa beberapa menit di sebuah planet mengorbankan puluhan tahun di Bumi sangat… menyakitkan. Time dilation 1:60,000 yang digunakan sebagai dasar Interstellar bukanlah sebuah hal yang salah, secara teori time dilation 1:60,000 dengan sebuat pengecualian adalah hal yang mustahil, karena Anda harus melewati sebuah orbit yang stabil berputar dengan anomali tidak berbentuk, yang mungkin sulit terjadi, but hey! Dengan teori relativitas umum, orbit yang berputar secara stabil di massive black hole yang berputar dengan rapid maka time dilation, tidal forces bisa saja terjadi. Teorinya.

Iya, teori. Interstellar adalah perwujudan bagaimana jika hipotesis-hipotesis kompleks yang dibuat oleh para ilmuwan antariksa (is this a correct term?) benar-benar terjadi. Hukum fisika di antariksa adalah hal yang membosankan dan tidak penuh sound effect seperti dalam film Armageddon, cobalah menonton dokumenter ruang angkasa, maka sensasi yang sama akan Anda rasakan dalam film Interstellar. Atau Cosmos.

Interstellar berhadapan dengan teori-teori fisika yang mudah dipahami dan sudah dipublikasikan dengan teori dan hipotesa yang well-educated dan Interstellar menyelaraskan dengan baik antara fiksi dengan spekulasi terbaik yang bisa dilakukan oleh ilmuwan dan masuk dalam area abu-abu di mana ide ide baru masuk dan masuk jauh dalam hipotesa tajam dan ilmiah tentang alam.

Premis Interstellar membuat ruang dan waktu tidak lagi terlihat linear. Konsep dunia 5 dimensi membuat pertanyaan “apa yang akan terjadi jika dia tidak pergi dan mengubah ke masa lalu?” karena dalam dunia 5 dimensi, waktu adalah dimensi yang bisa dijelajahi dan diubah. Sementara kita makhluk 3 dimensi hanya bisa melihat satu waktu dengan asumsi waktu adalah linear. Dan hanya karena makhluk 3 dimensi tidak memahami tentang dimensi ke empat dan ke lima, tidak berarti dimensi ke empat dan ke lima tidak pernah ada. Saya jadi teringat video lama Carl Sagan tentang dimensi ke empat (seriously guys, watch him!).

 

Ohya, setelah itu saya jadi menonton Discovery Channel: Science of Interstellar.

Oh saya bilang tentang father complex kan?

(spoiler) (spoiler) (spoiler) (spoiler)

Saya merasa Prof. Brand mengirimkan putrinya dalam misi bukan hanya karena putrinya qualified, tapi juga karena ia sadar bahwa Plan A tidak akan berhasil, dan putrinya akan tetap hidup melakukan Plan B di sana. Membuat Prof. Brand melakukan apa yang dia larang untuk Cooper, menyelamatka putrinya. Ha!

(spoiler) (spoiler) (spoiler) (spoiler)


Director: Christopher Nolan

Writer: Jonathan Nolan, Christopher Nolan

Cast:

  • Matthew McConaughey as Cooper
  • Anne Hathaway as Amelia Brand
  • David Gyasi as Romilly
  • Wes Bentley as Doyle
  • Bill Irwin as the voice of TARS
  • Josh Stewart as the voice of CASE
  • Jessica Chastain as Murph
  • Mackenzie Foy as Young Murph
  • Ellen Burstyn as Old Murph
  • Michael Caine as Professor Brand
  • Casey Affleck as Tom
  • Timothée Chalamet as Young Tom
  • John Lithgow as Donald
  • Topher Grace as Getty
  • David Oyelowo as Principal
  • Matt Damon as Dr. Mann

Rotten Tomatoes Score: 74%

Metacritic Score: 74/100