Saya melakukan ritual yang biasa saya lakukan beberapa tahun terakhir ketika menghadapi tujuh-belas-agustusan. Membaca ulang buku-buku Soekarno dan kisah kemerdekaan, sambil mengetes kemampuan otak apakah beberapa detail kemerdekaan berpuluh tahun lalu masih lekat di sana.

Beberapa menit sebelum riuh pengibaran bendera merah putih yang ditayangkan di seluruh channel televisi Indonesia, saya membuka pintu dan melihat Emak sedang duduk menghadap taman belakang. Tidak ada bendera merah putih berkibar di tiang yang tertancap di sana, tidak ada kegiatan berarti di keluarga saya yang padahal murni militer.

Pemandangan ini mulai terbiasa bagi pagi-pagi saya setelah Emak tidak lagi memiliki tenaga sebesar ketika dia muda saat Emak mungkin salah satu orang yang pernah terjun payung atas perintah negara. Emak duduk diam dan menikmati, apa yang saat itu ia bisa nikmati.

merdeka/mer·de·ka/ /merdéka/ a 1 bebas (dr perhambaan, penjajahan, dsb); berdiri sendiri: 2 tidak terkena atau lepas dr tuntutan:  3 tidak terikat, tidak bergantung kpd orang atau pihak tertentu; leluasa:

Tahun lalu saya sibuk mengikuti kegiatan supermentor, menyanyikan Indonesia Raya di publik dan menorehkan semangat menjadi lebih baik untuk bangsa dan negara dari didikan manusia-manusia cerdas berkenegaraan Indonesia. Tahun ini pun seharusnya saya berada di suatu tempat dan mengibarkan Sang Pusaka dari sudut kota yang lain.

Tapi saya melihat kemerdekaan hakiki yang ada dalam rumah saya sendiri. Yang Emak lakukan ketika tanpa perlu bertanggung jawab pada label pekerjaannya, lencana di dadanya dan mungkin seragam-seragam militernya. Tahun ini Emak memerdekakan diri dengan tidak melakukan upacara bendera.

Saya duduk di samping Emak, sambil berdiam-diam menikmati angin sepoi-sepoi kemarin. Tidak ada hujan, dan matahari belum terik. Sayup-sayup dari televisi upacara pengibaran bendera mulai berkumandang. Saya berkomunikasi dalam diamnya Emak, sambil mengingat-ngingat kapan saya terakhir kali duduk di sebelah Emak dan mungkin menikmati waktu bersama Emak.

“Ndak jadi ke Krakatau?”

Emak memecah hening teringat ijin saya beberapa hari lalu untuk ikut majikan ke Krakatoa.

“Ndak ah, capek naik gunung.”

Saya cengengesan, pura-pura tak terlihat menghitung dalam kepala biaya-biaya hidup yang berada di luar rencana. Untuk bapak, untuk emak, untuk adik, lalu untuk saya. Menyusun prioritas satu per satu setiap detiknya.

“Ndak ngibarin bendera, Mak?”

“Ndak ah, capek nyucinya nant,” gantian Emak saya cengengesan, saya menunduk tercekat ingin berkata, “kan bisa saya yang nyuci, Mak.”

Saya mendengar suara pintu terbuka, Bapak termangu di depan pintu kamar mungkin takjub anaknya ada di sebelah Emaknya. Anaknya yang bebal ini dan sering nggak pulang, anaknya yang keras kepala dan lebih memilih diam di kamar bersama buku-buku bapaknya.

Bapak ikut duduk di sebelah saya dan Emak, di belakang nyanyian Indonesia Raya dimulai. Kami menatap taman belakang yang kosong sambil bergumam menyanyikan Indonesia Raya. Saat itulah saya merasakan kemerdekaan itu, bahwa di bawah nama nasionalisme, saya menghabiskan waktu bukan dengan upacara bersama orang-orang yang tak saya kenal.

Saya merdeka dengan tidak melakukan upacara bendera, tahun ini. Saya merdeka dengan menggunakan waktu yang ada untuk Bapak-Emak saya, yang mungkin seharusnya saya pergunakan lebih banyak lagi setelah ini.

Yang kemudian semangat menjadi lebih baik saya tidak hanya untuk bangsa dan negara, tapi sependek mampu membuat Bapak-Emak saya bangga.

 

*foto adalah majikan yang mengibarkan bendera di puncak Krakatoa