Tak ada yang mampu memamahami aku seperti dia. Tak ada yang mampu menyelesaikan kalimatku atau membaca pikiranku seperti dia. Terdengar cheesy, tapi begitulah aku dan Re. Aku dan Re tak bisa dipisahkan, semua orang juga bilang begitu, ibunya, gurunya, dan teman-teman kami. Mungkin mereka cemburu karena tak memiliki sahabat seperti aku dan Re yang bisa ke manapun berdua. Kami sudah berteman entah sejak kapan, aku tak bisa mengingat kapan terakhir kali aku tidak bersamanya semenjak kecil hingga dewasa. Fu dan Re, best friend forever.

Makanya aku menjadi sedih ketika dia sakit.

“Schizophrenia” kata orang-orang. Sebuah penyakit yang artinya dia melihat dan mendengar hal-hal yang tidak ada. Dia tidak percaya dia seorang Schizophrenia, dan dia banyak bercerita padaku. Aku tentu saja percaya padanya, dia kan sahabatku.

“Mereka pasti iri, Fu.” Suatu hari dia berkata, “mereka tak punya sahabat seperti kamu tempat aku bisa bicara tentang banyak hal.”

Aku tak paham kenapa dia bilang begitu hingga suatu hari dia memintaku menemaninya dalam sebuah sesi bersama psikiaternya.

“Jadi, Re, Apa kabarmu sekarang?” Psikiater itu bertanya. Perempuan kurus berwajah judes, dengan baju berbelahan dada rendah dan menatap tajam ke arah Re. Jujur, aku tidak nyaman dengannya. Aku tidak suka cara dia menatap Re dan berusaha masuk ke dalam isi kepala Re.

“Aku, baik-baik saja.” Re bergumam. Aku menggenggam tangan Re, berusaha agar Re lebih nyaman. Re menengok ke arahku dan tersenyum manis. Psikiater itu menatap ke arahku dan mulutnya mengatup keras. Aku tak suka melihatnya.

“Kamu masih melihatnya?” Dia bertanya, tajam.

Re menatap ke arahku “Ya iyalah, dia kan sahabatku.”

Psikiater itu menghela nafas, “Kamu harus sadar Re, ini semua hanya ada dalam kepalamu.”

“Maksudnya apa sih?” Aku bertanya.

“Dia gak tau dia ngomong apa.” Re berkata padaku.

“Apa kamu sedang bicara dengan Fu sekarang?” tanya psikiater itu, dengan dingin.

“Aku menyuruh dia datang ke sini bersamaku.”

“Re,” psikiater itu menatap langsung ke arah mata Re,”kamu harus sadar dan masuk ke dalam kepalamu. Fu itu nggak nyata. Dia bagian dari imajinasimu. Nggak ada yang bisa lihat Fu.”

Aku terkejut dan marah, menarik tanganku dari tangan Re, “Apaan sih? Maksudnya dia apa?!” Re berusaha menggenggam tanganku tapi aku menepisnya, “Fu.. jangan marah…”

“Apa maksudnya aku nggak nyata?”

“Kamu tuh nyata buatku!” Re berteriak dan hampir menangis.

Aku berdiri dan menatap ke arahku sendiri. Aku terlihat nyata kok, aku punya tubuh, aku punya tangan dan kaki dan tidak melayang di udara. Gimana aku bisa gak nyata?

“Re, kamu harus menenangkan dirimu,” psikiater itu mendekati Re, “dia tak akan bisa mengontrolmu, dia hanya bagian dari imajinasimu.”

“Diam!” Aku berteriak pada psikiater itu, mendekatinya lalu mendesis di kupingnya, “kamu gak tau apa yang kamu omongin, bego!”

Tapi dia tetap bergeming, seperti tidak ada apapun. Kenapa dia tidak menyadari teriakanku dan bahwa aku sudah sedekat ini dengannya?

Aku menengok dan melihat Re mulai menangis, “aku pengen banget kamu beneran nyata, Fu.”

“Ini demi kebaikanmu sendiri, Re. Kamu sudah dewasa sekarang. Kamu nggak bisa terus memiliki teman imajiner.” Psikiater itu berjongkok mendekati Re.

Aku marah sekali. Kenapa sih dia harus memisahkan aku dengan Re?

Re menatapku dengan pandangan pasrah, “Fu… maafin aku ya…”

Aku menangis, tak sempat berucap apa-apa.

Lalu aku perlahan menghilang.