Sepotong Cerita di Bandara

Aku masih ingat apa jawabanku ketika kamu bertanya sekali padaku, “apa yang kamu benci? apa yang kamu cintai?”

Kamu tau, aku terkejut dan mungkin merona merah untuk menjawab pertanyaanmu, “aku benci perpisahan, aku jatuh cinta pada musim semi.” Kamu tertawa, sambil menikmati angin hangat dan bunga-bunga yang baru bermekaran itu. Dan rasanya ingin sekali aku meralat jawabanku dulu, aku jatuh cinta pada tawamu. Dan beberapa musim semi yang kulewati dengan tawamu.

Tapi di bandara ini, dalam malam yang cerah ini, di mana pesawatmu menunggu sabar di sana. Kamu di depanku, rapuh. Sesuatu yang tak pernah kuingat ketika aku menjadi bagian dari kamu, atau kamu bagian dari aku.

Mungkin mata kita yang berbicara, tanpa suara. Kita tahu apa yang harus kita lakukan, keputusan yang tidak mungkin bisa kita hindari, sekarang atau nanti.

Aku menarik nafas panjang sebelum melepasmu ke ruang boarding, aku adalah masa lalumu. Selesai sudah. Tidak bisa lebih dari ini. Kamu telah memutuskan apa yang selama ini kamu bimbangkan.  Pelukan terakhir kamu terasa dingin, dan aku menatap kosong pada punggungmu yang semakin menjauh.

Aku masih ingat apa jawabanku ketika kamu bertanya sekali padaku, “apa yang kamu benci? apa yang kamu cintai?”

Dan rasanya ingin sekali aku meralat jawabanku dulu, aku benci pada undangan pernikahanmu.

choro

Sudah mau tiga puluh tapi tetap lucu kinyis-kinyis. Kinyis-kinyisnya sudah mutlak, lucunya masih dalam tahap diusahakan.

One thought on “Sepotong Cerita di Bandara

  • August 24, 2016 at 08:32
    Permalink

    Sering melakukan perjalanan menggunakan sarana transportasi udara membatku belajar banyak hal, yang paling utama ialah kesabaran. Benar! Kesabaran… Kesabaran untuk mematuhi setiap peraturan dan petunjuk yang diwajibkan bagi para penumpang pesawat terbang. Peraturan dan petunjuk yang pastinya dimaksudkan untuk tujuan yang baik dan demi keselamatan dari para pengguna sarana transportasi udara itu sendiri. Berada dalam ruang tunggu sebuah bandar udara,dan duduk berjam-jam didalam pesawat, sedikit-banyak membuat mataku terbuka: https://www.itsme.id/jika-saja-edisi-bandara/

    Reply

Leave a Reply