Aku masih ingat apa jawabanku ketika kamu bertanya sekali padaku, “apa yang kamu benci? apa yang kamu cintai?”

Kamu tau, aku terkejut dan mungkin merona merah untuk menjawab pertanyaanmu, “aku benci perpisahan, aku jatuh cinta pada musim semi.” Kamu tertawa, sambil menikmati angin hangat dan bunga-bunga yang baru bermekaran itu. Dan rasanya ingin sekali aku meralat jawabanku dulu, aku jatuh cinta pada tawamu. Dan beberapa musim semi yang kulewati dengan tawamu.

Tapi di bandara ini, dalam malam yang cerah ini, di mana pesawatmu menunggu sabar di sana. Kamu di depanku, rapuh. Sesuatu yang tak pernah kuingat ketika aku menjadi bagian dari kamu, atau kamu bagian dari aku.

Mungkin mata kita yang berbicara, tanpa suara. Kita tahu apa yang harus kita lakukan, keputusan yang tidak mungkin bisa kita hindari, sekarang atau nanti.

Aku menarik nafas panjang sebelum melepasmu ke ruang boarding, aku adalah masa lalumu. Selesai sudah. Tidak bisa lebih dari ini. Kamu telah memutuskan apa yang selama ini kamu bimbangkan.  Pelukan terakhir kamu terasa dingin, dan aku menatap kosong pada punggungmu yang semakin menjauh.

Aku masih ingat apa jawabanku ketika kamu bertanya sekali padaku, “apa yang kamu benci? apa yang kamu cintai?”

Dan rasanya ingin sekali aku meralat jawabanku dulu, aku benci pada undangan pernikahanmu.