Spiral of Silence – Studi Kasus tentang Florence Sihombing

*ahem*

Jadi begini, beberapa hari lalu sempat heboh mengenai mbak Florence Sihombing, mbak yang ngomel-ngomel di Path karena masalah BBM dengan bahasa yang cukup kasar. Kasus bergulir makin besar dan berakhir dengan penahanan Florence Sihombing oleh Polda DIY.

Nggak, saya nggak mau cerita pendapat saya tentang apa yang dilakukan Florence Sihombing, saya pengen cerita tentang sebuah teori komunikasi bernama Spiral of Silence karena tweet mbak Nyai yang ini:

https://twitter.com/MbakNyai/status/505904208868950017

Sebetulnya Juni lalu saya iseng bikin semacam kultweet mengenai Spiral of Silence:

Jadi begini, dalam teori Spiral of Silence, dijelaskan bahwa mereka yang berada di pihak minoritas cenderung kurang tegas dalam mengeluarkan pendapatnya dan bahkan sering merasa perlu untuk menyembunyikan pendapat dan pandangannya ketika berada dalam kelompok mayoritas, alasannya? Social pressure. Manusia pada umumnya takut terisolasi dan selalu ingin bergabung dengan kelompok yang lebih kuat, sehingga mereka berusaha sebaik mungkin mengikuti mayoritas.

Itulah makanya dalam kasus Florence Sihombing, banyak terjadi pergeseran pendapat tergantung pada apa saja mayoritas pendapat yang orang tersebut baca di ruang publiknya. Dalam contoh besar hal yang sama bisa diperhatikan saat kondisi pemilihan presiden kemarin.

Spiral of Silence dikamarmandiin

Salah satu trik yang bisa digunakan (dalam skala kecil, bukan skala politik ya) untuk membuktikan teori ini misalnya:

  1. Ajaklah teman kamu menonton film yang dia optimis film tersebut bagus (entah karena baca review yang bagus, suka dengan trailernya, suka dengan pemainnya, suka dengan sutradaranya dst)
  2. Ajak dua atau tiga teman lain dan suruh mereka untuk menunjukkan kekecewaan pada film tersebut setelah film tersebut kelar (tidak peduli pendapat mereka sebenarnya, kan cuma trik)
  3. Tanyakan pada teman yang optimis tersebut, bisa jadi dia mengucapkan hal-hal bagus tentang film tersebut.
  4. Kamu dan teman-temanmu tadi segera berkata, “duh aku berharap lebih dari film ini” , “kayaknya ga sebagus itu deh” , “bener apa kata temenku, filmnya jelek”.
  5. Lihat reaksi orang tadi.
  6. Jika dia tidak segera mengubah pendapatnya tentang film tersebut, coba tanya lagi pendapatnya tentang film tersebut keesokan harinya. 80% kemungkinan dia mengubah pendapatnya.

Pernyataan dan persepsi orang, pada umumnya, bisa disetir dan dikondisikan dalam keadaan di mana semua orang tidak berani bertanggung jawab pada pendapatnya, hal ini juga relevan dengan Abilene Paradox yang kemarin saya tuliskan. Makanya banyak sekali yang berusaha menggunakan influencer untuk mengubah words of mouth sebuah produk atau sebuah brand.

Then again…

choro

Sudah mau tiga puluh tapi tetap lucu kinyis-kinyis. Kinyis-kinyisnya sudah mutlak, lucunya masih dalam tahap diusahakan.

9 thoughts on “Spiral of Silence – Studi Kasus tentang Florence Sihombing

  • September 1, 2014 at 07:39
    Permalink

    menarik banget…
    baru dengar tentang teori ini walaupun sudah melihat langsung praktenya di lapangan.

    sekarang saya selalu berusaha melihat sebuah kejadian dari perspektif yang berbeda dan tidak lantas buru-buru memunculkan opini pribadi. saya takut berakhir jadi orang bimbang yang mengubah persepsi atau opini hanya gara2 lebih banyak orang beropini yang sama atau sebaliknya.

    sekarang saya lebih banyak belajar mencari data dan fakta sebelum memutuskan bagaimana membentuk opini pribadi.

    mungkin karena saya sudah lumayan tua #halah

    Reply
    • September 1, 2014 at 08:13
      Permalink

      Tenang daeng, tua tidak membuat seseorang jadi berhenti belajar. *lho*

      Reply
  • September 1, 2014 at 09:56
    Permalink

    Terus ada teori yg pas utk membahas pembentukan opini oleh selebtwit, dan perbedaan pengaruhnya di konteks peristiwa sosial dan komersial?
    #ngajakbikinskripsi

    Reply
  • September 1, 2014 at 10:25
    Permalink

    Arahnya kebawah ya? Kalo keatas mungkin jadi spiral of nyinyir… :) #eh

    Reply
    • September 1, 2014 at 10:43
      Permalink

      Kak @jensen @dbrahmantyo @sabaiX: KAK AH! :))))

      Reply
  • June 18, 2016 at 16:42
    Permalink

    Anu, bukanya spiral of silence ini ada sangkut pautnya sama media ya? Lalu itu kasusnya letak media nya ada di twitter itu bukan? Thaank youu

    Reply
    • June 20, 2016 at 10:13
      Permalink

      Halooo, spiral of silence sebetulnya bukan cuma di media, tapi nunjukkin majority viewpoint bisa drive someone opinion, walaupun dia sendiri tidak setuju dengan pendapat mayoritas. Bisa dalam sosial media bisa juga ketika FGD atau pas lagi diskusi / ngobrol dalam tim / geng.

      Yang aku jadiin studi kasus dalam hal ini kebetulan ada di sosial media, bagaimana pendapat orang-orang di twitter bisa berubah tergantung dari mayoritasnya berkata apa :) Semoga ga bingung ya.

      Reply

Leave a Reply