*ahem*

Jadi begini, beberapa hari lalu sempat heboh mengenai mbak Florence Sihombing, mbak yang ngomel-ngomel di Path karena masalah BBM dengan bahasa yang cukup kasar. Kasus bergulir makin besar dan berakhir dengan penahanan Florence Sihombing oleh Polda DIY.

Nggak, saya nggak mau cerita pendapat saya tentang apa yang dilakukan Florence Sihombing, saya pengen cerita tentang sebuah teori komunikasi bernama Spiral of Silence karena tweet mbak Nyai yang ini:

Sebetulnya Juni lalu saya iseng bikin semacam kultweet mengenai Spiral of Silence:

Jadi begini, dalam teori Spiral of Silence, dijelaskan bahwa mereka yang berada di pihak minoritas cenderung kurang tegas dalam mengeluarkan pendapatnya dan bahkan sering merasa perlu untuk menyembunyikan pendapat dan pandangannya ketika berada dalam kelompok mayoritas, alasannya? Social pressure. Manusia pada umumnya takut terisolasi dan selalu ingin bergabung dengan kelompok yang lebih kuat, sehingga mereka berusaha sebaik mungkin mengikuti mayoritas.

Itulah makanya dalam kasus Florence Sihombing, banyak terjadi pergeseran pendapat tergantung pada apa saja mayoritas pendapat yang orang tersebut baca di ruang publiknya. Dalam contoh besar hal yang sama bisa diperhatikan saat kondisi pemilihan presiden kemarin.

Spiral of Silence dikamarmandiin

Salah satu trik yang bisa digunakan (dalam skala kecil, bukan skala politik ya) untuk membuktikan teori ini misalnya:

  1. Ajaklah teman kamu menonton film yang dia optimis film tersebut bagus (entah karena baca review yang bagus, suka dengan trailernya, suka dengan pemainnya, suka dengan sutradaranya dst)
  2. Ajak dua atau tiga teman lain dan suruh mereka untuk menunjukkan kekecewaan pada film tersebut setelah film tersebut kelar (tidak peduli pendapat mereka sebenarnya, kan cuma trik)
  3. Tanyakan pada teman yang optimis tersebut, bisa jadi dia mengucapkan hal-hal bagus tentang film tersebut.
  4. Kamu dan teman-temanmu tadi segera berkata, “duh aku berharap lebih dari film ini” , “kayaknya ga sebagus itu deh” , “bener apa kata temenku, filmnya jelek”.
  5. Lihat reaksi orang tadi.
  6. Jika dia tidak segera mengubah pendapatnya tentang film tersebut, coba tanya lagi pendapatnya tentang film tersebut keesokan harinya. 80% kemungkinan dia mengubah pendapatnya.

Pernyataan dan persepsi orang, pada umumnya, bisa disetir dan dikondisikan dalam keadaan di mana semua orang tidak berani bertanggung jawab pada pendapatnya, hal ini juga relevan dengan Abilene Paradox yang kemarin saya tuliskan. Makanya banyak sekali yang berusaha menggunakan influencer untuk mengubah words of mouth sebuah produk atau sebuah brand.

Then again…