Seringkali saya diberi nasehat oleh orang lain, “kamu masih 24 tahun, Chor, jalanmu masih panjang.” Saya teringat di satu masa, saya menaikkan alis ketika gorgeous berkata, “Aku masih 27 Chor, aku masih pengen lihat banyak tempat sebelum settle down.”

Oh, how much I hate those words. Saya paham, bagi beberapa orang yang jauh lebih berpengalaman dari saya, saya adalah orang yang sangat grasa-grusu dan terlalu terburu-buru mengambil keputusan. Tidak ada yang salah dengan kalimat gorgeous atau nasehat untuk saya tersebut, tentu saja, tapi saya selalu membenci kata “masih“. Sebuah kata penuh jebakan seolah-olah kita punya banyak waktu luang untuk menyelesaikan segala hal.

Kebanyakan pria dalam hidup saya mungkin membentuk cara berpikir saya, “sudah“. Baik itu ayah saya, majikan atau bahkan Tuan. Mereka berpikir dengan cara yang sama, “saya sudah… apa pencapaian saya?”

Sebetulnya kalimat “Aku masih 27, masih pengen lihat banyak tempat sebelum settle down.” itu bisa saja diubah dengan kalimat yang bermakna sama tapi punya tekanan yang berbeda, “Saya sudah 27, saya belum melihat banyak tempat dan juga belum settle down.”

Sama seperti saya ketika orang-orang berkata perjalanan saya masih jauh, saya sudah 24 tahun, saya masih belum punya hunian tinggal permanen, saya belum punya kendaraan, saya belum punya gelar master, saya belum keliling Indonesia, saya belum sertifikasi menyelam, saya belum ke luar negeri lagi, saya belum menyelesaikan banyak buku di kamar, saya belum punya gaya hidup sehat dan sederet daftar yang belum saya selesaikan sementara waktu terus berjalan secara linear.

Setidaknya dalam dua tahun terakhir, saya menuliskan satu buah reminder untuk selalu saya pegang dalam melakukan sesuatu, “All we have to decide is what to do with the time that is given us.” Saya cukup kenyang dengan kenyataan bahwa, kematian tidak sejauh itu berjalan dari kita, tidak pernah ada jaminan bahwa hidup saya atau bahkan hidup kita sepanjang apa yang kita bayangkan.

Ini bukan postingan tentang resolusi 2015, sama seperti tahun lalu, kenapa harus menunggu sampai tahun baru untuk mencapai hal-hal yang ingin saya capai. Daftar panjang pencapaian saya masih menunggu untuk saya selesaikan, dan saya sudah berusia 24 tahun.