Setahun lalu, tempat saya bekerja meminta untuk membuat video ucapan terkait selamat hari ibu kepada ibu masing-masing. Saya menjadi salah satu yang harus mere-take video tersebut berulang-ulang karena saya terlalu awkward dan tidak punya banyak hal yang bisa diucapkan mengenai ibu saya, dan akhirnya berujung saya tidak banyak menceritakan apapun tentang beliau. Tahun ini pun saya menolak ketika kantor meminta mengucapkan dan mengeluarkan cerita apapun tentang ibu saya.

Ada banyak hal yang membuat saya tidak banyak bercerita tentang ibu saya, salah satu hal utama adalah karena hubungan saya dan ibu mungkin tidak seperti bagaimana hubungan ibu dan anak perempuan pada umumnya.

Saya tidak membenci ibu saya, saya mencintainya dengan cukup dan dengan cara saya sendiri, yang mungkin berbeda dengan cara seorang anak mencintai ibunya. Ya, saya pernah mengalami masalah dengan beliau, tentu saja, dan mereka pernah menjadi sumber kemarahan saya, sebagaimana abege pada umumnya, tapi tidak membuat saya kemudian membenci ibu saya. Saya sudah melewat berbagai fase mengenai hubungan saya dan ibu, termasuk akhirnya saya bisa belajar memahami cara pikir ibu saya.

Ibu pernah menjadi superwoman, dan sebagaimana perempuan super pada umumnya, Ibu tidak pernah meminta, merengek, dan mengerjakan segala sesuatu sendirian. Karena mampu, karena kuat. Ibu adalah sosok pendiam yang kemudian memilih menenggelamkan apa yang dia rasakan. Dan yang paling hebat adalah, Ibu paham hanya dirinya yang dapat dia andalkan dan tak pernah sekalipun beliau bergantung pada orang lain. Ini yang membuat saya frustrasi dan sering mengkambing-hitamkan ibu untuk ketidak mampuan saya mengeluarkan apa yang saya rasakan, ketidak mampuan saya untuk menghapuskan jarak pada mereka-mereka yang secara darah dan garis keturunan disebut keluarga.

Lalu kami saling melukai satu sama lain, karena kami punya kacamata ideal masing-masing bagaimana ibu dan anak perempuannya seharusnya berhubungan, tanpa punya kemampuan mengkomunikasikan dan bahkan menuntut satu sama lain untuk menjadi sosok yang kami idamkan. Saya tersadar ketika setelah beberapa tahun, saya baru memahami hal-hal pembentuk karakter ibu saya, betapa banyak kehiilangan dan kemudian kenyataan yang ibu jalani dan menjadikan ibu yang sekarang. Dan bagaimana ibu sebetulnya berharap kepada saya, anak perempuannya, lalu karena ketidak-mampuan ibu meminta, saya tidak bisa menjadi anak perempuan yang selama ini dia idam-idamkan.

We failed each other, but that’s it! Kami (setidaknya saya) sudah menerima bahwa hubungan kami, yang diciptakan puluhan tahun ini semakin lama semakin membuat kami (setidaknya saya) nyaman. Butuh waktu lama bagi saya (dan ternyata ibu) untuk tersadar bahwa ibu adalah manusia biasa, yang ternyata punya perasaan dan punya suara. Bahwa tidak semua orang mampu membaca pikiran dan masa lalu ketika kita diam, bahwa sebenarnya belajar meminta bukanlah sebuah kesalahan, toh masalah dikabulkan atau tidak bukan lagi masalah kita. Seperti bahwa saya sudah tidak mampu mengabulkan harapan mereka menjadi anak perempuan yang ideal.

Saya teringat, ketika videografer kantor memaksa saya untuk bilang apapun tentang ibu saya, termasuk meminta ibu tersadar bahwa saya pernah terluka dan meminta dia minta maaf. Saya menggeleng, “buat apa?” fase kemarahan dan memaafkan itu sudah jauh terlewati, tapi juga tidak semerta-merta membuat saya bisa bersikap sebagaimana anak perempuan ke ibunya.

Saya menikmati jarak yang ada di antara saya dan ibu, karena bagi saya jarak antara ibu dan saya adalah jarak paling dekat di antara orang-orang terdekat saya, setelah majikan saya. Jarak yang kemudian disalah-pahami oleh berbagai orang sebagai perasaan tidak cinta kepada ibu saya. Saya sayang dan cinta kepada ibu saya, dengan cara saya sendiri. Dengan cara tidak memiliki hal-hal yang ingin saya ucapkan kepada ibu saya lagi saat ini.