Mungkin saya terlalu selo, tapi berikut adalah transkrip dari Video Prabowo Subianto 25 Juli 2014:

Bismillahirrahmanirrahim,

Assalamualaikum wr wb, salam sejahtera bagi kita sekalian, shalom, om swastiastu, nama budaya.

Saya ingin menyampaikan beberapa pikiran-pikiran saya pada saat negara kita saat ini menghadapi keadaan yang kita ketahui bersama adalah cukup memprihatinkan. Saudara saudara sekalian, sudah berkali-kali saya menyampaikan baik melalui tulisan, melalui pidato-pidato, maupun melalui pesan-pesan yang disiarkan melalui internet dan media-media lain.

Saya telah menyampaikan bahwa saya turut berjuang untuk membangun bangsa Indonesia yang demokratis. Komitmen saya kepada demokrasi sudah saya buktikan pada saat saya menjadi seorang panglima di dalam tentara nasional Indonesia. Seorang panglima yang memimpin 33 batalyon tempur. Bisa dikatakan, sepertiga kekuatan tempur angkatan darat berada di bawah komando saya.

Dan pada saat saya dituduh ingin melakukan kudeta untuk mengambil alih kekuasaan pada bulan Mei tahun 1998, saya telah buktikan kepada rakyat Indonesia dan kepada sejarah bahwa saya tidak melakukan apa yang dituduh saya rencanakan. Bahkan saya turun dari jabatan dengan tidak membantah perintah atau putusan. Dan setelah sekian belas tahun, tidak pernah ada keluhan, bantahan atau sanggahan dari saya.

Waktu itu saya seorang prajurit, walaupun saya pensiun, semangat keprajuritan saya masih tetap saya pegang. Semangat prajurit TNI adalah tentara rakyat, kita lahir dari rakyat, kita membela rakyat dan kita siap mati untuk rakyat Indonesia. Saya telah membuktikan selama karier hidup saya, berkali-kali saya pertaruhkan nyawa untuk bangsa dan negara saya.

Saudara saudara bisa bertanya kepada mantan anak buah saya yang jumlahnya ribuan, yang berada di mana mana, tanyakan pada mereka, apakah Prabowo Subianto pernah meninggalkan tugas di daerah peretempuran. Saudara saudara sekalian, tanyakanlah pada mereka, apakah dalam pertempuran, saya berada di depan memimpin mereka di bawah desingan peluru, atau apakah saya berada di sebuah markas yang aman di garis belakang.

Saudara saudara sekalian, saya sebagai patriot, telah bersumpah untuk membela dan membangun bangsa saya. Saudara saudara sekalian, dalam menjalankan sumpah itu untuk membela dan membangun bangsa, saya yakin bahwa demokrasi adalah sistem pemerintahan yang terbaik.

Karena itu saya terjun ke politik sudah sepuluh tahun lebih, saya mengikuti pemilihan umum sudah tiga kali, saya membangun sebuah partai dari nol, saya keliling dari kabupaten ke kabupaten, kecamatan ke kecamatan, desa ke desa, provinsi ke provinsi. Memang banyak yang belum saya sentuh karena sungguh besar negara kita, saudara saudara sekalian.

Saya telah menyampaikan di beberapa fora, di beberapa majelis, bahwa bangsa kita telah mengalami sebuah keadaan yang janggal, di mana kekayaan bangsa kita tidak tinggal di Republik Indonesia. Kekayaan kita mengalir terus keluar, karena itulah saya berjuang untuk terus mengubah sistem ini. Saya berjuang untuk mengamankan kekayaan rakyat dan kekayaan negara.

Karena itu saya berbicara dari hati saya yang paling dalam, saudara saudara sekalian. Saya percaya, bahwa demokrasi harus dilaksanakan dengan sebaik-baiknya, karena itu melaksanakan pemilihan presiden yang baru kita laksanakan adalah harapan kita semua. Bahwa mandat yang diberikan kepada rakyat…, saya ulangi, diberikan dari rakyat kepada siapapun, bahwa mandat itu harus diberikan secara benar-benar, secara adil, secara terbuka, secara bersih, secara jujur.

Esensi demokrasi adalah pemilihan yang bersih dan pemilihan yang jujur, saudara saudara seklian, dalam pemilihan presidan yang baru lalu, ternyata kita temukan kecurangan-kecurangan yang terlalu banyak, kecurangan-kecurangan yang telalu masif, yang terlalu sistematis. Kita juga mengalami bahwa penyelenggara pemilu tidak adil, memihak salah satu kontestan. Protes-protes kami, himbauan-himbauan kami, sebagai pasangan calon presiden dan calon wakil presiden nomer 1 tidak pernah dihiraukan,. Rekomendasi-rekomendasi bawaslu di beberapa tempat tidak pernah diindahkan.

Saudara saudara sekalian, tim hukum kami dan tim data kami telah menemukan suatu indikasi kecurangan yang cukup besar. Karena itu dengan saat sedih dan sangat menyesal kami mengatakan bahwa pemilu ini sesungguhnya gagal. Bahwa pemilu ini tidak sah, bahwa pemilu presiden ini melanggar kaidah-kaidah demokrasi, bahwa apabila kita merestui keputusan ini, berarti kita merestui sebuah kecurangan, kita merestui sebuah kebohongan, kita merestui sebuah ketidak benaran.

Para sahabatku, di manapun engkau berada. Saya kira saudara saudara merasakan di mana-mana, betapa telah rusak mental bangsa kita, betapa telah rusak mental para pemimpin-pemimpin kita, mental para pejabat-pejabat kita. Ini mencemaskan kita semua, bagaimana bisa kita hidup sebagai negara merdeka kalau semua pejabat kita atau hampir semua pejabat kita tidak punya integritas, bisa disogok , bisa dibeli? Di mana tempat keadilan untuk rakyat yang tidak punya uang. Kalau orang merasa diperlakukan dengan tidak adil, seharusnya dia punya tempat untuk mengadu, harusnya dia ke polisi, atau dia ke pengadilan, atau dia minta suatu pembelaan di lembaga-lembaga negara yang didirikan dalam Republik kita.

Ternyata kalau semua lembaga-lembaga tersebut buntu karena korupsi, karena hakim-hakim sudah tidak punya integritas, hakim bisa dibeli, pejabat KPU bisa dibeli, pejabat KPUD bisa dibeli. Kalau ini semua terjadi, apa masa depan bangsa kita? Di mana bangsa kita bisa bertahan? Gunakanlah akal sehat kita, sungguh-sungguh negara kita menuju kegagalan.

Saudara-saudara, saya katakan ada kalanya dalam hidup kita harus memilih pilihan yang sulit. Apakah kita membela kebanaran, atau kita merestui ketidak benaran? Apakah kita berdiri tegak untuk membela keutuhan bangsa, kemandirian bangsa, dan nilai-nilai yang kita junjung tinggi, atau kita menyerah pada uang? Kita menjual nilai-nilai kita, kita menjual diri kita, kita menjual kepribadian kita, kita menjual harga diri kita saudara saudara. Pilihan-pilihan semacam ini sangat sulit.

Pada tahun 45, pemimpin-pemimpin kita dihadapkan dengan pilihan semacam ini. Apakah menyatakan kemerdekaan, atau menunggu kemerdekaan diberikan oleh penjajah. Pilihan yang sulit, pilihan itu mengandung resiko. Mereka yang menghendaki menyatakan kemerdekaan, agar kemerdekaan bukan hadiah dari penjajah, memang mempertaruhkan naywanya dalam resiko.

Dalam 10 November tahun 45, rakyat Surabaya dan pemimpin-pemimpin di Surabaya juga dihadapkan dengan pilihan yang susah, yang sulit. Menyerah kepada ultimatum Inggris untuk angkat tangan dan menyerahkan senjata paling lambat tanggal 9 November, atau menghadapi serbuan dan serangan negara adidaya pada saat itu, yaitu Inggris. Kita bayangkan bagaimana harga diri bangsa kita, kalau waktu itu pemimpin-pemimpin Surabaya dan rakyat di Surabaya menyerah, kalau Gubernur Suryo, Bung Tomo, dan semua pemimpin-pemimpin Jawa Timur dan Surabaya tunduk kepada ultimatum asing. Bagaimana harga diri kita sekarang, juga dalam krisis-krisis besar bangsa kita.

Tahun 65 apakah memilih membela pancasila atau menyerah kepada ideologi yang tidak sesuai dengan bangsa kita, yaitu komunisme. Saudara saudara, demikian juga pada tahun 98, pada era reformasi, banyak pemimpin kita juga dihadapkan dengan pilihan yang susah, membela sistem yang kurang demokratis atau berani membawa reformasi dan demokrasi. Reformasi dan demokrasi telah kita jalankan selama 16 tahun.

Saudara-saudara sekalian, banyak lawan-lawan saya selalu hendak mendiskreditkan saya. Saya digambarkan sebagai seorang yang haus kekuasan, yang nafsu untuk berkuasa dan saya digambarkan orang yang suka menggunakan kekerasan, yang kejam, dan sebagainya, dan sebagainya.

Saudara-saudara saya telah membuktikan setelah sekian belas tahun bahwa saya selalu mengutamakan jalan damai. Saya seorang mantan prajurit yang mengerti perang. Saya pernah melihat perang. Saya pernah melihat korban-korban perang. Komandan yang sangat saya hormati, gugur di tangan saya. Anak buah-anak buah saya yang terbaik, gugur di sekitar saya. Saya yang harus ke keluarga mereka, ke ibu mereka, ke istiri mereka, ke orang tua mereka untuk memberi tahu putranya gugur di bawah kepemimpinan saya. Saya selalu ingin jalan damai, karena itu, saudara-saudara sekalian, fitnah-fitnah yang mereka lontarkan sungguh sangat keji.

Saya dituduh ingin menutup semua gereja di Republik Indonesia, padahal keluarga saya sebagian besar kristen, bahkan ibu saya adalah seorang nasrani. Bahkan di sekitar saya, pengawal-pengawal saya, ajudan-ajudan saya, sekretaris saya, banyak orang nasrani. Saudara-saudara, saya seorang prajurit, mantan prajurit TNI, sumpah kita membela seluruh rakyat Indonesia tanpa memandang suku, agama, ras. Saya telah mempertaruhkan nyawa saya, dan banyak anak buah saya dari bebragai suku dan agama, telah gugur di bawah komando saya. Bagaimana bisa saya melanggar sumpah saya dan melupakan pengorbanan anak buah saya? Saudara-saudara, saya juga telah difitnah seolah-olah bahwa saya adalah anti etnis Tionghoa. Padahal saya selalu membela semua kelompok minoritas.

Saudara saudara sekalian, fitnah-fitnah itu adalah bagian yang keji dari politik. Saya minta pada sahabat saya untuk sabar dan tenang, jangan menjadi marah. Kita harus semakin arif, semakin sabar, bukan kita menerima fitnah ini, tapi kita perhitungkan dengan sebaik-baiknya. Dan jangan kita balas kedengkian dengan kedengkian, saya minta janganlah kita balas kejahatan dengan kejahatan, janganlah kita balas fitnah dengan fitnah kembali.

Saudara-saudara sekalian, dalam situasi kritis ini, saya minta saudara saudara terus, walaupun sabar, kita juga harus siap, siap mental kita, siap tenaga kita, siap nafas kita. Dan saya minta saudara-saudara dalam keheningan malam nanti, renungkanalah pendapatmu, renungkanlah sikapmu, renungkanlah jawabanmu. Saya bertanya, apakah kita membela kebenaran terus, atau kita menyerah kepada ketidak benaran, kepada kecurangan, kepada kedzoliman.

Dan dalam hari-hari yang akan datang, setelah kita merenungkan, marilah kita mengambil langkah-langkah untuk menghadapi hari-hari yang akan datang. Saya telah memilih berjuang di atas landasan konstitusional. Saya sangat-sangat sulit menyerah kepada keadaan yang tidak benar dan tidak adil. Saya menilai keadaan ini adalah sarat dengan campur tangan asing. Ada negara-negara tertentu yang ingin Indonesia lemah, yang ingin Indonesia hancur, yang ingin Indonesia miskin. Kita telah mendapat bukti-bukti yang cukup kuat tentang keterlibatan mereka, tetapi tetap kita harus tenang, kita harus sabar, dan kita harus tidak melupakan kekuatan kita sendiri.

Saudara saudara sekalian, katakanlah dari hitungan yang mereka anggap benar, yang kita anggap tidak benar, puluhan juta rakyat Indonesia berada bersama kita. Puluhan juta, bahkan sahabat-sahabatku di facebook saya sekarang jumlahnya sudah lebih dari 8 juta orang. Saya minta pada sahabatku yang sejati, mungkin saja ada yang masuk hanya ikut-ikutan, tapi mereka yang benar-benar ingin bersama saya dalam memperjuangkan dan membela nilai-nilai kebaikan, nilai-nilai membela Indonesia, nilai-nilai membangun Indonesia yang benar dan baik untuk anak dan cucu kita.

Saya mohon saudara saudara, marilah terus kita dalam kekompakan dan kebersamaan, dan marilah kita menilai dari hari ke hari, apapun kita lakukan harus selalu di atas landasan kontitusi kita, dan tidak boleh menggunakan kekerasan. Kita akan melaksanakan perjuangan apapun di atas landasan satya graha, yang telah diberi contoh oleh soerang tokoh di India, Mahatma Gandhi, dan di Amerika, Martin Luther King, dan di Afrika Selatan, Nelson Mandela. Percayalah kebenaran akan menang, kebenaran tidak bisa dikalahkan.

Yang penting kita harus berani, kita harus tegar, kta harus mau berkorban, saudara saudara sekalian. Bung Karno dan Bung Hatta dan Bung Sjahrir dan Pak Dirman dan Gubernur Suryo dan I Gusti Ngurah Rai dan semua pahlawan-pahlawan pendiri bangsa kita, telah mengajarkan bahwa kalau kita tidak menyerah, kalau kita berani, kalau kita tegar, kebenaran akan unggul, kebenaran akan menang.

Pada saatnya, kita harus siap menghadapi kesulitan, kita harus siap menghadapi penderitaan, tapi pilihannya apa? Kita menyerah. Apakah kita seperti budak yang disuruh duduk, duduk, disuruh berdiri, berdiri, disuruh tunduk, tunduk, disuruh diam, diam, disuruh ambil air, ambil air? Atau kita bangsa yang terhormat, bangsa yang mengerti membela haknya, membela hak-hak rakyat.

Saudara saudara sekalian, kekuatan kita besar, kita kemarin dicurangi, karena itu marilah kita susun barisan kita kembali, susun kekuatan kita kembali. Dari orang ke orang, susunlah kekuatanmu, 5 orang demi 5 orang, nanti 10 orang demi 10 orang, adakan diskusi, bahas di rumah masing-masing. Atur pada saat nanti kita akan umumkan bagaimana perjuangan kita. Yang jelas pilihannya hanya dua, berdiri terhormat sebagai bangsa kesatria, atau tunduk selamanya sebagai bangsa kacung, bangsa budak, bangsa yang lemah, bangsa yang bisa dibeli, bangsa yang bisa disogok.

Pilihannya ada di hati kita masing-masing. Saya tidak tahu, dari 8 juta sahabatku, berapa yang terus bersama saya. Saya mohon, tolonglah, jawab kepada saya sehingga saya tahu siapa yang akan berjuang terus bersama saya sampai titik darah yang penghabisan, atau mereka yang akan melihat dari pinggir, sayapun tidak masalah.

Terimakasih, ini belum akhir dari sebuah perjuangan, ini baru awal dari perjuangan kita. Merdeka!

Wassalamualaikum, wr wb